Perspektif Historis Kesadaran Kebangsaan dan Kemerdekaan Indonesia Berdimensi Kebudayaan

Bambang Purwanto

Abstract


Cita-cita Indonesia sebagai kesatuan bangsa yang merdeka mulai terancam, ketika sekelompok elite politik dan masyarakat tertentu mulai membayangkan untuk tidak lagi menjadi bagian dari rumah besar Indonesia. Keadaan ini menyadarkan semua pihak bertapa pentingnya historiografi dan memori kolektif bangsa dalam membentuk, memahami, dan memelihara kesadaran kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia sebagai cara berpikir yang integratif dan menyeluruh. Berbeda dengan kajian yang ada selama ini yang hanya menekankan pada dimensi politik, tulisan ini menempatkan kesadaran kebangsaan dan kemerdekaan indonesia dalam ruang dimensi kebudayaannya. Ketika kesadaran kebangsaan dan kemerdekaan dipahami dalam dimensi kebudayaan, maka Proklamasi 17 Agustus 1945 bersama-sama Pancasila tidak lagi dapat disebut sebagai produk politik semata, melainkan sebagai kebudayaan bangsa

Keywords


Indonesia, kebangsaan, kemerdekaan, kebudayaan, historiografi

Full Text:

PDF

References


Abdullah, I. T. (2012). “Bahasa Melayu: Lingua Franca Islam”, dalam Azyumardi Azra & Jajat Burhanudin (Ed.), Indonesia Dalam Arus Sejarah 3, Kedatangan dan Peradaban Islam. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, hlm. 232-251.

Abdullah, T. (2001). Nasionalisme & Sejarah. Bandung: Satya Historika.

Abdullah, T. (Ed.). (1997). Denyut Nadi Revolusi Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Abdullah, T. & Lapian, A. B. (Ed.). (2012). Indonesia Dalam Arus Sejarah 1-8. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve.

Anderson, B. (2006). Imagined Communities, Reflection on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.

Ave, J. B. (1989). “‘Indonesia’, ‘Insulinde’ and ‘Nusantara’: Dotting the I’s and Crossing the T”. BK, 145 (2/3), hlm. 220-234.

Benedict, P. K. (1942). “Thai, Kadai, and Indonesian: A New Alignment in Southeastern Asia”. American Anthropologist, 44 (4), part 1, hlm. 576-601.

Departemen Penerangan R.I. (1964). Lahirnja Pantja-Sila. Djakarta: Pertjetakan Negara.

Dieter-Evers, H. (2016). “Nusantara: History of a Concept”. JEMBRAS, 89 (310), Part 1, hlm. 3-14.

Elson, R. (2008). The Idea of Indonesia. Cambridge: Cambridge University Press.

Gellner, E. (1983). Nations and Nationalism. Oxford: Basil Blackwell.

Hatta, M. (1953). Kumpulan Karangan. Djakarta: Penerbitan dan Balai Buku Indonesia.

Ingleson, J. (1993). Perhimpunan Indonesia dan Pergerakan Kebangsaan. Jakarta: Grafiti.

Kahin, G. M. (1955). Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press.

Kartodirdjo, S. (2005). Sejak Indische Sampai Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Kayam, U. (1989). “Transformasi Budaya”. Pidato pengukuhan jabatan guru besar pada Fakultas Sastra UGM. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Kumar, D. V. (2010). “Gellnerian Theory of Nation and Nationalism: A Critical Appraisal”. Sociological Bulletin, 59 (3), hlm. 392-406.

Kuntowijoyo. (2000). “Indonesian Histroriography in Search of Identity”. Humaniora, 12 (1), hlm. 79-85.

Lindsay, J. & Maya, H.T. (Ed.). (2011). Ahli Waris Budaya Dunia, Menjadi Indonesia 1950-1965. Jakarta-Denpasar: KITLV dan Pustaka Larasan.

Molewijk, G. C. (1987/1988). “Oude and nieuwe naamgeving van de Oostindische Archipel”. Jakarta: Jambatan, No. 5, hlm. 55- 68.

Multatuli. (1991). Max Havelaar Atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda. Jakarta: Djambatan.

Nagazumi, A. (1976). “Indonesia” dan “Orang-orang Indonesia”, dalam S. Ichimura dan Koentjaraningrat, (Ed.), Indonesia Masalah dan Bunga Rampai. Jakarta: Gramedia, hlm. 1-25.

Nayono (Ed.). (1994). Karya Ki Hadjar Dewantara. Bagian II: Kebudayaan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Purwanto, B. (2001). “Memahami Kembali Nasionalisme Indonesia”, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 4, 3 March 2001, Yogyakarta: Fisipol UGM, hlm. 243-264.

Purwanto, B. (2006). Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?! Yogyakarta: Ombak.

Purwanto, B. (2012). “Kesadaran Kebangsaan Indonesia dalam Perspektif Historis Penyerbukan Silang Antar Budaya”. Makalah Seminar. Yogyakarta: Yayasan Nabil & Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Purwanto, B. (2013). “Kearifan Lokal dan Masa Depan Kebangsaan Indonesia: Sebuah Pengantar Diskusi”. Makalah. Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

Purwanto, B. (2017). “Ki Hadjar Dewantara, Berpolitik Dengan Akal Budi dan Hati Nurani”. Makalah Seminar. Jakarta: Museum Pergerakan Nasional.

Ricklefs, M. C. (2001). A History of Modern Indonesia since c. 1200. Third Edition. Basingstoke: Palgrave.

Rukmana, A. & Lembong, E. (Ed.). (2015). Penyerbukan Silang Antarbudaya: Membangun Manusia Indonesia. Jakarta: PT. Elex Media Kompatindo.

Smith, A. D. (1983). Theories of Nationalism. London: Duckworth.

Soedjatmoko. (2001). Kebudayaan Sosialis. Jakarta: Melibas.

Vickers, A. (2009). Peradaban Pesisir. Menuju Sejarah Budaya Asia Tenggara. Denpasar: Pustaka Larasan.

Vlekke, B. H. M. (2008). Nusantara. Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.




DOI: http://dx.doi.org/10.17509/historia.v2i2.16636

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah



 Image result for logo garuda ristekdikti

Lisensi Creative Commons
Historia is licensed under Creative Commons Atribution - Non Commercial - Share Alike 4.0 International.

Alamat Redaksi: Gedung Numan Soemantri, FPIPS UPI, Departemen Pendidikan Sejarah, Lantai 2, Jl. Dr. Setiabudhi No 229 Bandung, 40154

 

View "Jurnal Historia" Stats