IDENTIFIKASI AKUIFER BERDASARKAN METODE GEOLISTRIK SUSUNAN SCHLUMBERGER DI KECAMATAN PEJAGOAN, KEBUMEN

Nandian Mareta Hermawan, Chusni Ansori

Abstract


IDENTIFIKASI AKUIFER BERDASARKAN METODE GEOLISTRIK SUSUNAN SCHLUMBERGER DI KECAMATAN PEJAGOAN, KEBUMEN

Nandian Mareta1*, Chusni Ansori1

1Balai Informasi dan Konservasi Kebumian, LIPI, Jl. Kebumen-Karangsambung KM 19, Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah

 

*Penulis Penanggungjawab. E-mail: nand015@lipi.go.id /nandianthea@gmail.com

 

ABSTRAK

Identifikasi airtanah menggunakan metode geolistrik susunan Schlumberger telah dilaksanakan di kecamatan Pejagoan, Kebumen. Pejagoan ini merupakan salah satu kecamatan di Kebumen yang cukup cepat perkembangan penduduknya, sehingga kebutuhan sumberdaya air juga meningkat. Setiap musim kemarau resiko kekurangan air selalu terjadi di bagian utara wilayah kecamatan. Penelitian tentang potensi airtanah dalam masih jarang dilakukan, sehingga dilakukanlah kegiatan ini. Susunan Schlumberger merupakan salah satu metode dalam geolistrik untuk mengetahui variasi litologi bawah permukaan melalui perbedaan tahanan jenis batuan. Pengukuran geolistrik dilakukan di 13 lokasi secara sounding, panjang bentangan rata-rata 200-250 meter, dengan kedalaman yang dihasilkan antara 65 meter sampai 140 meter. Berdasarkan nilai tahanan jenis, dapat diinterpretasikan litologi yang dijumpai berupa soil, batu lempung tufaan basah, batupasir tufaan basah, batupasir tufaan kering, batu gamping dan tufa kering. Soil terdapat pada lapisan paling atas, dengan kedalaman <10 meter, ditandai dengan nilai tahanan jenis yang tidak sepenuhnya stabil. Batulempung tufan basah mempunyai nilai tahanan jenis kecil (kurang dari 20 ohmmeter). Batupasir tufan basah dengan nilai tahanan jenis 20-100 ohmmeter. Batupasir tufan kering dan batugamping nilai tahanan jenis antara 100 – 1.000 ohmmeter, sedangkan nilai tahanan jenis sangat besar (>2.000 ohmmeter) diinterpretasikan sebagai tufa kering. Litologi yang dapat berfungsi sebagai akuifer setengah permeabel adalah batulempung tufaan basah dan batupasir tufaan basah.  Batulempung tufaan basah berada pada kedalaman 9 - 16 m, banyak mengalami kekar sehingga dimungkinkan sebagai akuifer dangkal.  Batupasir tufaan basah, pelamparannya lebih luas dapat berfungsi sebagai akuifer pada kedalaman 52 m dengan ketebalan 38 m. Sedangkan sebagai akuifer dangkal terdapat pada kedalaman 4 meter sampai 13 meter. Potensi air tanah pada akuifer dangkal sangat dipengaruhi oleh kondisi musim.

Kata Kunci: Geolistrik, susunan Schlumberger, vertical electrical sounding, akuifer

 

ABSTRACT

 

Groundwater identification using the Schlumberger arrangement geoelectric method has been carried out in Pejagoan sub-district, Kebumen. Pejagoan is one of the sub-districts in Kebumen which has a fairly rapid development of its population, so that water resource needs are also increasing. Every dry season the risk of water shortages always occurs in the northern part of the sub-district. Research on the potential of deep groundwater is still rare, so this activity is carried out. Schlumberger arrangement is one of the geoelectric methods to determine subsurface lithology variations through different types of rock resistance. Geoelectric measurements were carried out in 13 locations by sounding, with an average stretch of 200-250 meters, with a depth of between 65 meters and 140 meters. Based on the type of resistivity value, it can be interpreted as lithology found in soil, wet tuff claystone, wet tuff sandstone, dry tuff sandstone, limestone and dry tuff. Soil is found in the uppermost layer, with a depth of <10 meters, which is characterized by a value of type resistance that is not completely stable. Wet tuff claystone has a small resistance value (less than 20 ohmmeter). Wet tuff sandstones with resistivity values of 20-100 ohmmeter. Dry tuff sandstones and limestone type resistivity values between 100 - 1,000 ohmmeter, while very large resistance values (> 2,000 ohmmeter) are interpreted as dry tuffs. The lithology that can function as a semi-permeable aquifer is wet tuff claystone and wet tuff sandstone. Wet tuff claystone is at a depth of 9-16 m, has a lot of strength so it is possible as a shallow aquifer. Wet tuff sandstones, wider dispersion can function as aquifers at a depth of 52 m with a thickness of 38 m. Whereas as a shallow aquifer there is a depth of 4 meters to 13 meters. The potential of groundwater in shallow aquifers is strongly influenced by seasonal conditions.

 

Keywords: Geoelectric, Schlumberger arrangement, vertical electrical sounding, aquifer


References


Referensi

Anonim, 1992; Standar Metoda Eksplorasi Air Tanah dengan Geolistrik Susunan Schlumberger; SNI 03-2818-1992, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta

Anonim, 2015; Kebumen dalam angka; BPS

Asikin, S., Harsolumakso, A.H., Busono, H., Gafoer, S., (1992); Peta Geologi Lembar Banyumas, P3G Bandung

Asikin, S., (1974); Evolusi geologi Jawa Tengah ditinjau dari segi teori tektonik dunia yang baru, disertasi doktor ITB Bandung, tidak diterbitkan, 103 hal

Asikin, S., Suyoto, (1994); IPA Post Convention Field Trip, Banyumas Basin, Central Java, Field trip Guide Book, 31pp

Azhar, Handayani, G., 2004; Penerapan Metoda Geolistrik Konfigurasi Schlumberger untuk Penentuan Tahanan Jenis Batubara; Jurnal Natur Indonesia Vol 6. No. 2, hal. 122-126, ISSN 1410-9379

Bisri, Mohammad., 1991; Aliran Air Tanah Malang; Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Halik, G., Widodo, S.,J., 2008; Pendugaan Potensi Air Tanah dengan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger di Kampus Tegal Broto Universitas Jember; Media Teknik Sipil hal. 109-114

Herlambang, Arie, dkk., 1996; Database Air Tanah Jakarta, Studi Opstimisasi Pengelolaan Air Tanah, Jakarta; Dit P.S., Dep. Analisa Sistem, BPPT. Jakarta

Sapari. D.H.M., dkk., 2006; Sebaran Akuifer dan Pola Aliran Air Tanah di Kecamatan Batuceper dan Kecamatan Benda, Kota Tangerang, Provinsi Banten; Jurnal Geologi Indonesia, Vol. I No.3, hal. 115-128

Telford, W M, et al.,1990; Applied Geophysics Second Edition; New York; Cambridge University Press

Todd, D.K., 1980. Groundwater Hydrology. John Wiley and Sons. New York

Tirtomiharjo, H., Setiawan, T., 2011: Simulasi Aliran Air Tanah Cekungan Air Tanah Denpasar-Tabanan, Provinsi Bali; Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 6 No. 3 hal. 145-163

Utaya, Sugeng., 1990: Pengantar Hidrogeologi: Konsep Dasar Hidrologi; Universitas Negeri Malang




DOI: https://doi.org/10.17509/wafi.v4i1.14303

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Wahana Fisika

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Wahana Fisikae-ISSN : 2549-1989 (SK no. 0005.25491989/JI.3.1/SK.ISSN/2017.02 ) published by Physics Program , Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr.Setiabudhi 229 Bandung. The journal is indexed by DOAJ(Directory of Open Access Journal)SINTAandGoogle Scholar. Contact: Here

Creative Commons LicenseLisensi :Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

View Stats