Pengaruh Paparan Gaya Hidup Hedonis di TikTok terhadap Digital Native dalam Perspektif Hypodermic Needle Theory
Abstract
TikTok sebagai sarana berekspresi dalam media sosial, merupakan salah satu platform yang awam sekali digunakan oleh para digital native di Indonesia secara luas. Sebagai satu dari banyaknya platform media komunikasi yang mudah diakses banyak orang di era teknologi pesat ini, digital native tentu menghabiskan banyak waktu dalam aplikasi tersebut. Gaya hidup hedonis di TikTok kerap divisualisasikan dengan video yang mementingkan rasa gengsi, kepemilikan benda bernama atau bermerek, dan kemewahan. Dampak pada digital native yang menyaksikan lifestyle mewah di TikTok biasanya berupa rasa tidak nyaman seperti rasa marah, cemburu, sering membanding-bandingkan diri dengan orang lain dan lain sebagainya. Rasa tidak nyaman ini dapat dijuluki sebagai disonansi. Tingginya Frekuensi seorang digital native dalam melihat konten kebiasaan hidup hedonis dapat meningkatkan tingkat disonansi yang mereka rasakan. Teori yang digunakan untuk menganalisis hipotesis ini adalah Hypodermic Needle Theory. Metode kuantitatif dilaksanakan untuk membantu kelancaran penelitian ini, dengan metode pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner ke beberapa grup chat yang berisi teman sebaya, adik, dan orang-orang yang tergolong generasi milenial atau gen z. Melalui pembagian random sampling ini diperoleh sampel sebanyak 23 orang. Berdasarkan hasil tersebut, paparan konten gaya hidup mewah para pengguna hedonis di TikTok dan tingkat disonansi digital native memiliki hubungan yang kuat. Variabel independen (terpaparnya konten kebiasaan hidup hedonis di TikTok) dapat mempengaruhi variabel dependen (derajat disonansi masyarakat digital native). Frekuensi melihat konten gaya hidup hedonis di TikTok dapat memengaruhi tingkat disonansi yang dirasakan masyarakat digital native. Eksposur gaya hidup hedonis ini juga dapat mempengaruhi keputusan hidup para digital native. Maka demikian, boleh dikatakan nampak jelas beberapa impak yang signifikan dari banyaknya konten kebiasaan hidup hedonis di Tiktok terhadap derajat disonansi yang dialami oleh digital native.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Abdullah, S., Utami, A. D., Wunawarsih, I. A., Febryanti, A., Ema, Afrahamiryano, Hasanah, N., & Jayadisastra, Y. (2024). PENGANTAR KOMUNIKASI PENDIDIKAN (Salahuddin & S. R. Abubakar, Eds.; 1st ed.). Google Scholar. 2024, http://repository.ummy.ac.id/id/eprint/1286/1/EBOOK%20Pengantar%20Komunikasi%20Pendidikan.pdf
Afrelia, N. D., & Khairat, M. (2022). Hubungan Antara intensitas Pengguna Tiktok Dengan Kontrol Diri Pada remaja. JURNAL SPIRITS, 12(2), 62–67. https://doi.org/10.30738/spirits.v12i2.12808
Borah, P. (2017). Media Effects Theory. Research Gate. https://www.researchgate.net/publication/314119579_Media_Effects_Theory
Imran, H. A. (2013). Media Massa, khalayak media, the audience theory, Efek Isi media Dan Fenomena diskursif. Jurnal Studi Komunikasi Dan Media, 16(1), 47. https://doi.org/10.31445/jskm.2012.160103
Prensky, M. (2001). Digital Natives, digital immigrants part 1. On the Horizon, 9(5), 1–6. https://doi.org/10.1108/10748120110424816
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Pendidikan: (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D). Alfabeta.
West, R., & Turner, L. H. (2007). Introducing communication theory: Analysis and application. McGraw-Hill.
DOI: https://doi.org/10.17509/finder.v6i1.96735
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2026 Universitas Pendidikan Indonesia

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




