Harmonizing the religion, arts, and culture: Value of compassion as a conflict resolver in Sumedang
Abstract
Sumedang Regency faces a sociological challenge in the form of a sharp dichotomy between puritanical religious practices and local cultural arts expressions. This phenomenon hinders the optimization of social capital in building community character. This article aims to deconstruct the roots of this dichotomous conflict and reconstruct a new synergy model based on the Grand Theory of the integration of religion, arts, and culture, with the value of "compassion" (Ar-Rahman Ar-Rahim/Silih Asih) as an axiological meeting point. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with seven key informants (clerics, artists, academics, bureaucrats), and extensive literature reviews conducted through Community Service (Pengabdian kepada Masyarakat or PkM) activities. The results show that the dichotomy arises from a paradigmatic misunderstanding of religion, which is understood solely as a formalistic ritual. At the same time, arts and culture are considered profane and distant from God. The main findings demonstrate that compassion can serve as an epistemological bridge, with religion providing the ethical foundation, culture providing a communal symbolic container, and art serving as an expressive medium of divine beauty (Jamal). The synergy of these three dimensions creates strong social cohesion and an inclusive character education model in Sumedang.
Abstrak
Kabupaten Sumedang menghadapi tantangan sosiologis berupa dikotomi tajam antara praktik keagamaan yang puritan dan ekspresi seni budaya lokal. Fenomena ini menghambat optimalisasi modal sosial dalam pembangunan karakter masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk mendekonstruksi akar konflik dikotomis tersebut dan merekonstruksi model sinergi baru menggunakan Grand Theory integrasi agama, seni, dan budaya dengan nilai "kasih sayang" (Ar-Rahman Ar-Rahim/Silih Asih) sebagai titik temu (meeting point) aksiologis. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap tujuh informan kunci (ulama, seniman, akademisi, birokrat), dan studi literatur ekstensif melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Hasil menunjukkan bahwa dikotomi terjadi akibat misunderstanding paradigmatik terhadap agama yang dipahami sebatas ritual formalistik, sementara seni budaya dianggap profan dan menjauhkan dari Tuhan. Temuan utama membuktikan bahwa nilai kasih sayang mampu menjadi jembatan epistemologis di mana agama menyediakan landasan etika kasih sayang, budaya menyediakan wadah simbolik komunal, dan seni menjadi media ekspresif keindahan ilahiah (Jamal). Sinergi ketiga dimensi ini menciptakan kohesi sosial yang kuat dan model pendidikan karakter yang inklusif di Sumedang.
Kata Kunci: agama; budaya; nilai kasih sayang; resolusi konflik; seni ekspresif
Keywords
References
Alhafizh, M. F., Effendi, C., Musthofa, R. F., & Najmura, T. A. (2021). Kaitan silih asih, silih asah, dan silih asuh dengan sila ke-3 Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah negara. Jurnal Kewarganegaraan, 5(2), 671-680.
Andriani, D., & Putri, L. D. (2022). Pemberdayaan masyarakat kota dibidang budaya melalui Festival Anak Nagari (FAN) di Pantai Purus, Padang. Education For All : Jurnal Prodi Pendidikan Masyarakat/Pendidikan Luar Sekolah/Pendidikan non Formal, 2(1), 11-16.
Arfan, M. (2024). Dialektika agama dan budaya: (Pola hubungan Islam dan budaya lokal di masyarakat Gerung Lombok Barat). Fikroh, 8(2), 72-94.
Baihaqi, A., Faiqa, A. S., Hilmiansyah, J., & Novianti, W. (2025). Sinergi Islam, tradisi lokal, dan ketahanan budaya dalam masyarakat Jawa-Betawi untuk menjaga toleransi dan keadilan sosial di Jakarta. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(2), 301-315.
Budiyawan, H., Sukmana, E., & Kuswara, K. (2024). Nilai-nilai kearifan lokal silih asih silih asah silih asuh pada cerita rakyat “Telaga Warna.” Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra, 11(2), 247-256.
Diana, F. (2022). Pentingnya konseling lintas agama dan budaya dalam menjaga budaya toleransi di sekolah. Jurnal Al-Irsyad: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 4(1), 63-76.
Dienaputra, R. D., Yuliawati, S., & Yunaidi, A. (2021). Strategi pengembangan seni lukis kaca di Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon sebagai atraksi wisata. Dharmakarya: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat, 10(1), 17-23.
Dirman, D. (2024). Faith education according to taqiyuddin An-nabhani: Analysis of the contents of the book Nizham Al-Islam (Pendidikan Aqidah menurut Taqiyuddin An-nabhani: Analisis isi kitab Nizham Al-Islam). Shautut Tarbiyah-IAIN Kendari, 30(1), 112-125.
Ebin, M. E. R. S. (2024). Hakikat maha lembut Tuhan dalam Al-Qur’an dan Alkitab. Al-Hikmah: Jurnal studi Agama-Agama, 10(2), 78-94.
Fathoni, T. (2024). The concept of social solidarity in modern society: Émile durkheim’s perspective. Journal of Community Development and Disaster Management, 6(2), 129-147.
Husain, A., Mustafa, S. W., & Muhani, H. M. (2023). Pengaruh pendapatan dan budaya terhadap konsusmsi rumah tangga di kecamatan Mappedeceng. Jesya (Jurnal Ekonomi dan Ekonomi Syariah), 6(2), 1309-1316.
Irfan, M. (2017). Pendidikan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya dalam menghadapi gelombang modernisasi. Fitrah: Jurnal Studi Pendidikan, 8(1), 95-110.
Karlan, L. O., Djafar, N., & Ohi, R. (2022). Pemberdayaan seni budaya bagi masyarakat untuk menuju pembangunan SDGs yang berkualitas. Jurnal Sibermas (Sinergi Pemberdayaan Masyarakat), 11(4), 868-891.
Klau, S. (2022). Benturan peradaban Samuel P. Huntington (Sebuah analisis perang pemikiran barat—Islam dalam tinjauan komunikasi). Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan, 19(3), 671-685.
Kusuma, I. D. G. R. W., Wiguna, I. B. A. A., Widiary, N. P. E., Karyasa, T., Suardika, I. P., & Pratama, I. P. G. A. P. (2025). Seni sebagai media konseling: Integrasi pembelajaran seni budaya dan bimbingan konseling dalam pengembangan karakter siswa. Widya Sundaram : Jurnal Pendidikan Seni dan Budaya, 3(1), 45-57.
Muvid, M. B. (2021). Menjunjung tinggi Islam agama kasih sayang dan cinta kasih dalam dimensi sufisme. Reflektika, 16(2), 241-267.
Nafi’a, I., Gumiandari, S., Hakim, M. A., Safii, S., & Rokhmadi, R. (2022). Mitigating radicalism amongst Islamic college students in Indonesia through religious nationalism. HTS Teologiese Studies/Theological Studies, 78(4), 1-11.
Naima, L., Saifulah, S., & Yusuf, A. (2025). Integrasi Seni Budaya dengan pendidikan agama Islam di Madrasah Aliyah. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 14(3), 5605-5616.
Nugraheni, T., & Pamungkas, J. (2022). Analisis pelaksanaan pembelajaran seni pada PAUD. Early Childhood Research Journal (ECRJ), 5(1), 20-30.
Rahmiati, R. (2024). Sinergi antara guru pendidikan agama Islam dan kegiatan OSIS dalam internalisasi nilai-nilai agama pada siswa SMA Negeri 5 Gowa. Sindoro: Cendikia Pendidikan, 6(1), 31-40.
Rambe, A. A., Supriadi, U., Firmansyah, M. I., Dwietama, R. A., Putri, A. N. C., Rahardja, M. N. A., & Marbun, J. (2024). Pendekatan kasih sayang dalam pembentukan karakter pada anak usia dini perspektif hadits Nabi Muhammad SAW. Kiddo: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 5(2), 438-452.
Safitri, D., Zakaria, Z., & Kahfi, A. (2023). Pendidikan kecerdasan spiritual perspektif Al-Ghazali dan relevansinya dengan Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Tarbawi : Jurnal pemikiran dan Pendidikan Islam, 6(1), 78-98.
Saleh, R. (2023). Pemberdayaan yang berkelanjutan untuk perempuan purna-pekerja migran Indonesia: Pembelajaran dari Nahdlatul Ulama. Masyarakat Indonesia, 49(1), 103-122.
Setyowati, N. (2022). Interkoneksi agama, sosial dan budaya dalam pendidikan Islam. Journal of Islamic Education and Innovation, 3(1), 56-63.
Suardi, S. (2024). Model pembinaan pendidikan karakter pada pondok pesantren. Jurnal Pendidikan Al-Ishlah, 9(2), 90-105.
Surizkika, A. (2024). Wasilah dakwah: Analisis konsep dalam perspektif ontologi. Jurnal Sahid Da’watii, 3(02), 45-52.
Umar, M. F. A., Mopoliu, A. Z., Umar, M., Fadlan, A., & Surahman, C. (2025). Contextualization of Islamic values through local wisdom: Study of the values of Si Tou Timou Tumou Tou and silih asah silih asih silih asuh. Jurnal Ilmiah Iqra', 19(1), 1-10.
Utomo, A. N. A. A., & Hidayatullah, R. (2024). Relasi seni dan spiritualitas perspektif Iqbal dan relevansinya bagi pemahaman keagamaan kontemporer. Philosophy and Local Wisdom Journal (Phillow), 3(1), 1-29.
Utomo, H. P., & Sutopo, O. R. (2022). Logika nonexistence: Eksplorasi dialektis pemikiran Boaventura de Sousa Santos terhadap totalitas nalar dikotomis dan hierarkis. Jurnal Filsafat Indonesia, 5(3), 206-212.
Wiratno, T. A., & Sudibyo. (2025). Keindahan dalam seni sebagai komoditas: Dampaknya terhadap kebudayaan, moral, dan peradaban manusia. Jurnal Seni Rupa Warna, 13(1), 90-107.
DOI: https://doi.org/10.17509/dedicated.v3i2.93096
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2025 hilman taufiq abdillah, Syahidin syahidin

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Published by Faculty of Educational Sciences - Universitas Pendidikan Indonesia
in collaboration with Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)
Gedung FIP UPI Lt. 3 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Indexed By:
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) on Google Scholar














