KEBIJAKAN POLITIK NAHDLATUL ULAMA MENGENAI DASAR NEGARA 1945-1984

Anggi Muhammad Adha

Abstract


ABSTRACT

This article entitled NAHDLATUL ULAMA’S POLITICAL POLICY ABOUT BASIS STATE IN 1945-1984. The main problem examined in this article is "Why has there been a change in Nahdlatul Ulama's political attitudes regarding the basis of the state". The main problem is divided into three questions.

Based on the results of the study, Nahdlatul Ulama's views on relations between religion and the state changed. At first the Nahdlatul Ulama figures supported that the Indonesian state must be based on Islam but in the following years Nahdlatul Ulama supported the Pancasila as the country's foundation. Nahdlatul Ulama’s support for the country foundation must be based on Islam, as can be seen from Nahdlatul Ulama leaders who convene at the Constituent Assembly. The Nahdlatul Ulama constituent assembly along with other Islamic factions tried hard to make the state foundation based on Islam. However, the proposal was rejected by other factions who wanted the state foundation to be Pancasila.

The debate between state supporters based on Islam and supporters of the Pancasila found no conclusion. So on 5th July, 1959 President Soekarno issued a Presidential Decree to end the debate. In the 1980s President Soeharto issued a policy of making Pancasila a single principle for organizations in Indonesia. At first Nahdlatul Ulama rejected this policy. But in the end Nahdlatul Ulama accepted this policy. The cause of Nahdlatul Ulama accepting this policy besides the pressure from the government was the birth of a new generation of Nahdlatul Ulama that was different from before. This generation emphasizes pluralist life in Indonesia and aims to make the country the guardian of all religions.

ABSTRAK

Artikel ini berjudul KEBIJAKAN POLITIK NAHDLATUL ULAMA MENGENAI DASAR NEGARA 1945-1984. Masalah utama yang dikaji dalam skripsi ini adalah “Mengapa terjadi perubahan sikap politik NU mengenai dasar negara”. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa pandangan NU mengenai hubungan agama dan negara mengalami perubahan. Pada mulanya tokoh-tokoh NU mendukung bahwa negara Indonesia harus berdasarkan Islam namun ditahun-tahun selanjutnya NU mendukung Pancasila sebagai dasar negara. Dukungan NU terhadap dasar negara harus berdasarkan Islam dapat dilihat dari tokoh-tokoh NU yang bersidang di Konstituante. Disidang konstituante NU bersama fraksi Islam yang lain berusaha keras agar dasar negara berdasarkan Islam. Namun usulan itu ditolak oleh fraksi-fraksi yang lain yang menghendaki agar dasar negara adalah Pancasila. Perdebatan antara pendukung negara berdasarkan Islam dan pendukung Pancasila tidak menemukan titik temu. Sehingga pada 5 Juli 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden untuk mengakhiri perdebatan. Di tahun 1980-an Presiden Soeharto mengeluarkan kebijakan menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal bagi organisasi di Indonesia. Pada mulanya NU menolak kebijakan ini. Namun pada akhirnya NU menerima kebijakan ini. Penyebab NU menerima kebijakan ini selain adanya desakan dari pemerintah adalah telah lahirnya generasi baru NU yang berbeda dari sebelumnya. Generasi ini menekankan kehidupan pluralis di Indonesia dan bertujuan menjadikan negara sebagai pengawal semua agama.


Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.17509/factum.v9i1.21015

Refbacks

  • There are currently no refbacks.