Ekofeminisme: Perempuan, Alam, Perlawanan atas Kuasa Patriarki dan Pembangunan Dunia (Wangari Maathai dan Green Belt Movement 1990-2004)

Risal Maulana, Nana Supriatna

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi mendalam mengenai Wangari Maathai dan Green Belt Movement dalam mengatasi krisis lingkung dan diskrimnasi perempuan di Kenya. Secara umum, penelitian ini ingin menjawab pertanyaan mengenai “bagaimana ekofeminisme Green Belt Movement menyelesaikan persoalan lingkungan dan perempuan di Kenya?”. Untuk menguji permasalahan, peneliti melakukan penelitian dengan menggunakan metode historis yang mencakup empat langkah penelitian. Langkah-langkah penelitian diantaranya yaitu pengumpulan sumber tertulis melalui studi literatur (heuristik), kritik sumber, interpretasi atau analisis sumber dan historiografi. Peneliti juga menggunakan konsep untuk menyederhanakan analisis, diantaranya konsep ekologi, ekofeminisme, patriarki, three legged stool. Sebuah rasionalisasi untuk studi ekofeminisme ini, karena banyak perspektif tentang klaim yang dibuat oleh pemerintah atau gerakan itu sendiri. Analisis ekofeminisme muncul dalam bentuk pertanggungjawaban atas analisis perempuan dan alam sebagai kedua objek perjuangan yang dilakukan oleh Maathai, disamping itu ekofeminisme muncul digunakan sebagai alat perjuangan yang tidak memfokuskan pada perjuangan perempuan terhadap alam saja, melainkan berfokus juga pada permasalahan penindasan atas hak perempuan melalui perjuangan perempuan dan alam

Keywords


Deforestasi, Ekofeminisme, Patriarki

Full Text:

PDF

References


Abdurahman, D. (2007). Metodologi Penelitian Sejarah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group.

Arivia, G. (2006). Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Penerbit Kompas.

Astuti, T. (2012). Ekofeminisme dan Peran Perempuan Dalam Lingkungan. Indonesian Journal of Conservation, Vol. 1. No. 1, 49 – 60.

Bigeon, J. (2016). Gender Equality And Political Processes In Kenya. Nairobi: Strathmore University Press.

Delap, K. Q. (2013). From Root to Tree: Wangari Maathai's Green Belt Movement The Grassroots Approach to Addressing Human Rights Violations. Environmental. Claims Journal. 25(2), 144-153. DOI:10.1080/10406026.2013.782251.

Dewi, S. (2015). Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia Dengan Alam. Tangerang: Marjin Kiri.

Fitri, A.I. & Akbar, I. (2017). Gerakan Sosial Perempuan Ekofeminisme di Pegunungan Kendeng Provinsi Jawa Tengah Melawan Pembangunan Tambang Semen. Jurnal Ilmu Pemerintahan. Vol. 3 No. 1. Hlm. 83 – 102.

Gottschlak, L. (1986). Mengerti Sejarah. Jakarta: Universitas Indonesia Perss.

Hermes, J. (2007). “Media Representations of Social Culture: Gender” dalam Media Studies: Key Issues and Debates, ed. Eoin Deveroux. London: SAGE Publications : 191-210.

Ismaun. (2005). Pengantar Belajar Sejarah sebagai Ilmu dan Wahana Pendidikan. Bandung: Tim Kreatif Jurusan.

Keraf, A.S. (2002). Etika Lingkungan. Jakarta: Kompas.

Kharisma, A,H. (2017). Menuju Pembangunan Global Yang Demokratir: Kritik Wangari Maathai Terhadap Wacana Pembangunan Global. Indonesian Journal od International relathions, Vol.1 No, 2. Hlm. 70 – 89.

Kuntowijoyo. (1995). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Maathai, W. (2010). The Challenge for Africa. New York: Anchor Book.

Meidina, I. (2012). Gerakan Sabuk Hijau. Jakarta: Marjin Kiri.

Pratiwi, Dkk. (T.T). Peranan The Green Belt Movement Dalam Upaya Konservasi Hutan di Kenya Tahun 2007-2014. Jurnal Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana. 1- 9.

Priyadi, S. (2012). Metode Penelitian Pendidikan Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Reiter, R. R.(1975). Toward an Anthropology of Women: Introdution. New York: Monthly Review Press.

Scott, K. (2013). Peace Profil: Wangari Maathai and The Green Belt Movement. Peace Review: A journal of Social Justice. Vol. 25. No. 2, hlm 299-306. Doi: 10.1080/10402659.2013.785773.

Rismawati, S,D, dkk. (2017). Geliat Ecofeminisme Pedesaan dalam Pelestarian Lingkungan (Studi Kasus Di Desa Curug Muncar Pekalongan). Palastren. Vol.10, No.1 hlm. 1-24.

Shiva, V. (1998). Bebas dari Pembangunan: Perempuan, Ekologi, dan Perjuangan Hidup di India. Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Sjamsuddin, H. (2012). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Taylor, B. (2013). Kenya’s Green Belt Movement Contributions, Conflict, Contradictions, and Complications in A Prominent Environmental Non-Governmental Organization (ENGO). Civil Society In The Age Of Monitory Democracy. Hlm .180 – 207. Oxford and New York: Berghahn Books.

Tong, Rosemary Putnam. (2006). Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction. Diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Aquaini Priyatna Prabasmara. Bandung: Jalasutra

Zega, D, C & Putri ,S.(2014). Relasi Alam dan Perempuan dalam Pemikiran Ekofeminisme Vandana Shiva. Jurnal Filsafat.




DOI: https://doi.org/10.17509/factum.v8i2.22156

Refbacks

  • There are currently no refbacks.