Pemetaan SMK di Jawa Barat, Bangka Belitung dan Kalimantan Tengah
Yadi Mulyadi, Mukhidin Mukhidin, Agus Setiawan, Aam Hamdani, Purnawan Purnawan
Abstract
Sejak tahun 2005 Direktorat PSMK telah mencanangkan program nasional pengembangan SMK secara besar-besaran dengan skenario penambahan jumlah siswa SMK dan pengurang jumlah siswa SMA atau dikenal dengan skema 70:30. Pertimbangan fundamental nya adalah mengurangi tingkat pengangguran di level lulusan SMA akibat tidak dapat meneruskan studi ke jenjang lebih tinggi. Sedangkan memperluas pendidikan SMK diharapkan daya serap lapangan kerja di industri semakin besar. Implikasi dari program nasional di atas adalah terjadinya ‘booming’ SMK-SMK baru dari kota sampai ke berbagai pelosok daerah. Beberapa SMK baik negeri maupun swasta bermunculan secara cepat, bahkan di beberapa daerah ada gedung SD, SMP atau SMK yang dipakai untuk membuat SMK. Kondisi ini tentunya sangat mengkhawatirkan, di satu sisi sejalan dengan program nasional namun di sisi lain peningkatan kuantitas tersebut tidak berkorelasi linear dengan kualitas. Belum lagi kesesuaian program kompetensi SMK tersebut apakah sudah melewati studi kajian yang mendalam sehingga akan memberikan dampak terhadap daya serap industri. Oleh karena itulah secara berkala perlu dilakukan pemetaan secara komprehensif terhadap seluruh SMK yang ada mulai dari ketersediaan guru, program keahlian, infra struktur, perkembangan siswa, penambahan jumlah guru, daya minat masyarakat, termasuk program-program yang dilaksanakan di SMK. Metode yang digunakan dalam melakukan penelitian berupa descriptive methode, yaitu menggambarkan kondisi SMK yang ada di masing-masing daerah studi. Data dikumpulkan dengan metode sensus dan dokumentasi. Penelitian ini telah menghasilkan data untuk ketiga daerah studi Jabar, Babel, dan Kalteng secara berurutan sebagai berikut : (1) Jumlah SMK: 1043, 43, 67 ;(2) Jumlah Rombel: 9454, 418, 446; (3) Jumlah PSB : 134988, 5782; 5764; (4) Jumlah Siswa : 327757, 14482, 14010; (5) Jumlah lulusan : 81916, 2517, 2586.
Keywords
pemetaan SMK; skenario 70:30; perkembangan siswa SMK; kebutuhan guru
Arikunto S. (1988). Perencanaan dan pengembangan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan. Jakarta: P2LPTK.
Evans, Rupert N. (1971). Foundation of vocational education. Columbus: Charles E. Merril Publishing Co.
Mulyasa E. (2002). Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Soewono. (2002). Pendidikan Berbasis Kompetensi.
Sukamto. (1988). Perencanaan dan pengembangan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan. Jakarta: P2LPTK.
Suyitno. (2004). Isu Strategik dalam Pengelolaan Pendidikan Tinggi. Jurnal Ilmiah dalam Konvensi Nasional Aptekindo II dan Temu Karya XIII FT/FPTK/JPTK Universitas/IKIP se Indonesia. Jakarta.
Thompson, John F. (1973). Foundation of vocational education. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Thorogood, Ray. (1982). Current themes in vocational education and training polices: Part I. Industrial and Commercial Training.
Wenrich, Ralph C. dan J. William Wenrich. (1974). Leadership in administration of vocational and technical education. Columbus: Charles E. Merril Publishing Co.
This journal provides immediate open access to its content on the principle that making research freely available to the public supports a greater global exchange of knowledge.