KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR HIJAU PADA BANGUNAN MUSEUM GEOLOGI, STUDI KASUS : MUSEUM GEOLOGI BANDUNG

Muhammad Ghiyas Ghurotul Muhajjalin

Abstract


Abstract: Concern for nature must indeed be considered, because to prevent undesirable effects such as global warming or damage to the surrounding environment. The cause of this impact is a result of nature and even human actions themselves, such as due to volcanoes erupting, waste disposal, vehicle pollution, and others. But there are also causes of other things, namely the establishment of a building without looking at the surrounding environment, which only emphasizes the function and aesthetics, so it becomes a very important problem. Green architecture is a concept where buildings to be erected must have criteria to support the natural surroundings, so this concept is very used to minimize or prevent natural damage caused by buildings. An example of the building that will be applied in this research is the Geology Museum, considering that Indonesia has a complex geographical location and natural wealth from the bowels and extraterrestrial. The method used in this research is a qualitative descriptive method, which is the depiction or explaining the facts in the field by analyzing and discussing them broadly so that they can find results and conclusions.

Keywords: Green Architecture, Museum, Qualitative Descriptive.

 

Abstrak: Kepedulian terhadap alam memang harus diperhatikan, karena untuk mencegah dampak-dampak yang tidak diinginkan seperti pemanasan bumi atau kerusakan lingkungan sekitar. Penyebab dari dampak ini merupakan akibat dari alam bahkan perbuatan manusia itu sendiri, seperti akibat gunung berapi meletus, pembuangan limbah, polusi kendaraan, dan lain-lain. Namun ada juga penyebab dari hal lain yaitu berdirinya suatu bangunan tanpa melihat lingkungan sekitarnya, yang hanya mementingkan fungsi maupun estetikanya, sehingga menjadi suatu permasalahan yang sangat penting. Arsitektur hijau merupakan sebuah konsep dimana bangunan yang akan didirikan harus memiliki kriteria untuk mendukung alam sekitar, sehingga konsep ini sangat digunakan untuk meminimalisir atau mencegah terjadinya kerusakan alam  yang disebabkan oleh bangunan. Sebagai contoh bangunan yang akan diterapkan pada penelitian ini adalah Museum Geologi, mengingat Indonesia memiliki letak geografis yang kompleks dan kekayaan alam dari perut dan luar bumi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu penggambaran atau menjelaskan fakta-fakta yang ada di lapangan dengan cara menganalisis serta membahasnya secara luas sehingga dapat menemukan hasil dan kesimpulan.

 Kata Kunci: Arsitektur Hijau, Museum, Deskriptif Kualitatif


Full Text:

PDF

References


Afifah, R., Anisa, & Hakim, L. (2018). PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR HIJAU PADA BANGUNAN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TANAMAN HERBAL DI LEMBANG BANDUNG. Jurnal Arsitektur PURWARUPA Volume 2 No 2 September 2018 : 93-98, 94.

Henriyanto, A. (2016). PERENCANAAN PUSAT TEKNOLOGI INFORMASI DI KENDARI DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU. Volume 1 No 2| Agustus 2016, 84.

Kakunsi, I. E. (2013). ANALISIS PELAPORAN DAN KONTRIBUSI PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PADA DINAS PPKAD KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE. Jurnal EMBA Vol.1 No.4 Desember 2013, Hal. 1934-1945, 1934-1945.

Kalukar, S. J., Tumaliang, H., & Tuege, M. (2015). Desain Instalasi Penerangan Pada Bangunan Multi Fungsi. 12-13.

Karyono, T. H. (2010). Green Architecture Pengantar Pemahaman Arsitektur Hijau di Indonesia. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA.

Priatman, J. (2002). ”ENERGY-EFFICIENT ARCHITECTURE” PARADIGMA DAN MANIFESTASI ARSITEKTUR HIJAU. DIMENSI TEKNIK ARSITEKTUR Vol. 30, No. 2, Desember 2002: 167 - 175, 167-175.

Rusadi, P., Purwatiasning, A. W., & Satwikasari, A. F. (2019). PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR HIJAU PADA PERENCANAAN AGROWISATA KOPI DI TEMANGGUNG. Jurnal Arsitektur PURWARUPA Volume 03 No 4 September 2019, 25.

Dewanto, R. (2010, januari 11). bangunan publik. Retrieved from urban issues: http://www.rudydewanto.com/2010/01/bangunan-publik.html

Wulandari, A. A. (2014). DASAR-DASAR PERENCANAAN INTERIOR MUSEUM. HUMANIORA Vol.5 No.1 April 2014: 246-257, 246-257.

Susanto, H. (2014). MUSEUM BERBASIS ANDROID PADA MUSEUM RANGGAWARSITA SEMARANG DENGAN KOMPETENSI PROTOTYPE. 1.

Noor, A., & Karwina, W. (2012). Persepsi Wisatawan Domestik Terhadap Kualitas Pelayanan Museum Geologi Bandung . Industrial Research Workshop and National Seminar 2012 , 377-384.

Putri, A. F., Singgih, E. P., & Gunawan. (2019). KONSERVASI ENERGI DAN AIR PADA FASILITAS OLAHRAGA INDOOR DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU DI KOTA DEPOK JAWA BARAT . SENTHONG, Vol.2, No.1, Januari 2019 , 77-88.

Rachmayanti, S., & Roesli, C. (2014). GREEN DESIGN DALAM DESAIN INTERIOR DAN ARSITEKTUR . HUMANIORA Vol.5 No.2 Oktober 2014: 930-939 , 930-939 .

Syarif, E., & Amri, N. (2017). Arsitektur Hijau pada Morfologi Permukiman Tepi Sungai Tallo. Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia 6 (2), 82-87, 82-87.

Utsman, M. R., Suroto, W., & Winarto, Y. (2019). PENERAPAN PRINSIP ARSITEKTUR HIJAU PADA BANGUNAN KANTOR SEWA DI SURAKARTA. SENTHONG, Vol. 2, No.2, Juli 2019 , 415-424.




DOI: https://doi.org/10.17509/jaz.v3i2.24898

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Muhammad Ghiyas Ghurotul Muhajjalin