MENGURANGI POTENSI SICK BUILDING SYNDROME PADA RUMAH TIPE 60 YANG HANYA MEMILIKI 1 AREA BUKAAN

Lutfiedia Maharani Dermawan

Abstract


Abstract: The COVID-19 pandemic requires everyone to do all activities at home. So for a full 24 hours the house will be active with various activities for all its residents. The condition of the house is something that needs to be considered because it affects the physical and psychological health of the occupants of the house. Houses with poor conditions can create sick building syndrome, causing various diseases. This can be prevented by providing a design synthesis related to lighting and ventilation in accordance with the Indonesian National Standard (SNI). There are various types and sizes of houses so that the design synthesis that is designed will differ from one house to another. The solution for a house that does not have an opening area because it is squeezed by other buildings, can be by using the top opening in the form of a roof window, adding ventilation as natural air circulation and using lights as artificial lighting aids. The purpose of this study is to analyze and provide lighting and air conditioning solutions in homes that only have 1 opening area.

 

Keywords: lighting, opening area, roof windows, sick building syndrome, ventilation

 

Abstrak: Masa pandemi COVID-19 mengharuskan semua orang untuk melakukan seluruh kegiatan di rumah. Sehingga selama 24 jam penuh rumah akan aktif dengan berbagai kegiatan seluruh penghuninya. Kondisi rumah merupakan hal yang perlu diperhatikan karena berpengaruh pada kondisi kesehatan fisik dan psikologis penghuni rumah. Rumah dengan kondisi yang buruk dapat menciptakan sick building syndromesehingga menimbulkan berbagai penyakit. Hal tersebut bisa dicegah dengan memberikan sintesis desain terkait pencahayaan dan penghawaan yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Terdapat berbagai macam tipe dan ukuran rumah sehingga sintesis desain yang dirancang akan berbeda antar satu bangunan rumah dengan bangunan rumah lainnya. Solusi rumah yang tidak memiliki area bukaan karena terhimpit oleh bangunan lain, bisa dengan menggunakan bukaan atas berupa jendela atap, penambahan ventilasi sebagai sirkulasi penghawaan alami dan menggunakan lampu sebagai bantuan pencahayaan buatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan memberikan solusi pencahayaan dan penghawaan pada rumah yang hanya memiliki 1 area bukaan.

 

Kata Kunci : area bukaan, jendela atap, pencahayaan, penghawaan, sick building syndrome


Full Text:

PDF

References


Adhiwiyogo. (1969). Selection of the Design Sky for Indonesia based on the Illumination

Climate of Bandung. Symposium of Enviromental Physics as Applied to Building in the

Tropics.

Arsinta, Ayu S. (2012). Manfaat Pencahayaan Alami dan Buatan dalam Suatu Konstruksi

Bangunan.

Badan Standardisasi Nasional, Konservasi Energi pada Sistem Pencahayaan, SNI 03-6197-2000

Daryanto (2013). Dampak Sistem Penghawaan dan Pencahayan Terhadap Sick Building

Syndrome. ComTech Vol.4 No. 2 Desember 2013: 1386-1392

Fraser, Victoria J., Burd, L., Liebson, E., and Lipschik, Gregg Y. (2008). Diseases and Disorders,

Singapore: Marshall Cavendish.

Goldstein, Walter E. (2011). Sick building syndromeand Related Illness, Prevention and

Remediation of Mold Contamination. Florida: CRC Press.

Herr, C. M. et al. 2011. Daylight and Energy in the Early Phase of Architectural Design Process

- A Design Assistance Method Using Designer’s Intents. Circuit Bending, Breaking and

Mending. Proceedings of the 16th International Conference on Computer-Aided

Architectural Design Research in Asia CAADRIA 2011, Association for Research in

Computer-Aided Architectural Research in Asia (CAADRIA), Hong Kong.

Iskandar, Rini (2007). KAJIAN SICK BUILDING SYNDROME (Studi Kasus: Sick building

syndromepada Gedung “X” di Jakarta). Jurnal Teknik Sipil Volume 3 Nomor 2, Oktober

: 103-203

Permana, Zaki. (2012). Pentingnya Sirkulasi Udara dan Pencahayaan untuk Desain Rumah

Sehat dan Nyaman. (artikel online)

Prabu, P. (2009). Pencahayaan dalam Aspek Kesehatan Lingkungan

| Ju r n a l Ar s itektu r ZONAS I : V o lu me 6 No mo r 3 , O kto b er 2 0 2 3 Hal 723-734

Rahadiyanti, Melania (2015) Modifikasi Elemen Atap sebagai Skylight pada Desain

Pencahayaan Alami Ruang Multifungsi Studi Kasus: Desain Bangunan Student Center

Universitas Atma Jaya Yogyakarta. S2 thesis, UAJY.

Satwiko, P. (2004). Fisika Bangunan 2. Yogyakarta: Andi

Soegijanto. (1998). Bangunan di Indonesia dengan Iklim Tropis Lembab Ditinjau dari Aspek

Fisika Bangunan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

U.S Environmental Protection Agency. Indoor air facts no.4 (revised): sick building

syndrome(SBS). [Online]. 2009.

Wahab, Sabah Abdul. (2011), Sick building syndromein Public Building and Workplaces.

London:

Springer.




DOI: https://doi.org/10.17509/jaz.v6i3.42889

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2025 Lutfiedia Maharani Dermawan

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.