POLA RUANG PERMUKIMAN DI SEKITAR KAWASAN KERATON SURAKARTA DAN KERATON KASEPUHAN

Dwi Kustianingrum, Wahyu Buana Putra, Muhammad Miko Adityanto, Azhar Fairuz Zuhair, Ahmad Naufal Azdaffa

Abstract


Abstract: The palace is the area where the ruler lives. In the everyday sense, it is the palace of the rulers in Java. The palace is also a palace which has a high philosophical, religious, and cultural meaning. The presence of the Walisongo in the archipelago has an impact not only seen in the decorations/patterns on the palace buildings, but also in the spatial layout, landscape patterns within the palace complex and around the palace. The palace as a symbol of the power building in the end, gave an influence on the development of the pattern of space around it. This study aims to detect land use, circulation and open space around the Kasepuhan Cirebon and Surakarta Palaces. These two palaces were used as objects of research because they were considered the same scope and could represent the locations of West Java and Central Java. Descriptive analysis is the study methodology employed. As a result of these two palaces: (1) land use, both have in common, namely housing, trade and green zones, (2) circulation in both Kasepuhan palaces has a grid pattern, only in Kasepuhan palace it is mixed with radials, and has surrounding functions as trade and services, (3) open space, in the Surakarta Palace there are Lor and Kidul squares for community activities, tourism and markets, while in the Kasepuhan palace there is a Balong Darmaloka open space for tourism and an open space for ceremonies and markets.the Kasepuhan Cirebon and Karaton Surakarta. These two palaces were used as research objects because they were considered to have the same scope and could represent the locations of West Java and Central Java.

Keywords: Space Pattern, Karaton, Land Use, Circulation, Open Space

Abstrak: Keraton merupakan wilayah penguasa tinggal. Dapat diistilahkan istana penguasa di wilayah tanah Jawa. Keraton adalah istana yang berarti secara filsafat, kebudayaan, dan keagamaan yang tinggi. Hadirnya para Walisongo di Nusantara memberikan dampak tidak hanya terlihat di ragam hias/corak pada bangunan-bangunan keraton, akan tetapi juga pada tata ruang, pola lanskap di dalam komplek keraton maupun di permukiman sekitar keraton. Keraton sebagai simbolis bangunan kekuasaan pada masa lampau, memberi pengaruh terhadap perkembangan pola ruang disekitarnya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tata guna lahan, sirkulasi dan ruang terbuka  yang terdapat di permukiman sekitar keraton Kasepuhan Cirebon dan Keraton Surakarta. Kedua keraton ini dijadikan objek penelitian karena dianggap mempunyai lingkup yang sama dan dapat  mewakili lokasi daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analistis. Sebagai kesimpulan pola permukiman di sekitar kedua keraton ini: (1) Tataguna lahan, keduanya mempunya kesamaan yaitu zona perumahan,, perdagangan dan jasa dan zona hijau, (2) Sirkulasi di kedua  keraton Kasepuhan  mempunyai pola grid, hanya yang di Keraton Kasepuhan bercampur dengan radial, dan mempunyai fungsi disekitarnya sebagai perdangangan dan jasa, (3) Ruang/ Area terbuka, Kompleks Keraton Surakarta memiliki Alun-alun Lor dan Kidul yang berfungsi sebagai tempat aktifitas masyarakatnya, wisata dan pasar, adapun di Komplek Keraton Kasepuhan terdapat ruang terbuka Balong Darmaloka untuk wisata dan ruang terbuka alun-alun untuk upacara dan pasar.

Kata Kunci: pola ruang, keraton,tata guna lahan, sirkulasi,ruang terbuka


Full Text:

PDF

References


Ambary, H. M. (1998). Warisan Budaya Islam di Indonesia dan Kaitannya dengan Dunia Islam. Buletin Al -Turas, 4(1), 16–24.

Amin. S, Yahya. Idawarni, M, Syarif. Edward, Hamzah. Baharuddin, Jamala. Nurul, Asniawaty, Latif. M. Syavir, Beddu. S (2022). Optimalisasi Ruang Terbuka sebagai Ruang Produktif Bersama di Lingkungan Perumahan di Kelurahan Romang Lompoa Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa. Jurnal Tepat (Teknologi Terapan Untuk Pengabdian Masyarakat), Volume 5, Nomor 1, 2022, https://eng.unhas.ac.id/tepat/index.php/Jurnal_Tepat/article/view/241/130

Budihardjo, Eko (1998). Kota Yang Berkelanjutan. UI Press, Jakarta.

Ching, Francis D. K. (2007). Architecture Form, Space, and Order 3rd ed.New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

CIpto, B. (2010). Hubungan Internasional di Asia Tenggara. Pustaka Pelajar.

Danur Febyandari (2012). Studi Pengaruh Konsep Lanskap Keraton Surakarta Terhadap Lanskap Kota Surakarta, Institute Pertanian Bogor.

Dini Rosmalia (2015). Identifikasi Elemen Fisik Kebudayaan Kraton Sebagai Pembentuk Ruang Lanskap Budaya Kota Cirebon, Program Studi Universitas Pancasila. Issn 1858-1137.

Heryanto, Bambang, (2011). Roh dan Citra Kota, Brilian Internasional, Surabaya, hal. 25.

Iwan Purnama (2015). Konsep Tata Ruang Dan Bangunan Keraton Kasepuhan Cirebon, Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon.

Risdian. Happy, Sari. S.R, dan Rukayah. R.S, (2020). Elemen Perancangan Kota Yang Berpengaruh Terhadap Kualitas Ruang Kota Pada Jalan Jendela Sudirman Kota Salatiga, MODUL Vol 20, no. 1, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/modul

Rosmalia, D. (2015). Identifikasi elemen fisik kebudayaan kraton sebagai pembentuk ruang lanskap budaya kota cirebon. MEDIA MATRASAIN, 12(3), 44–53.

Sugiono. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif dan R&D. Bandung. Alfabeta.

Permana, A. Y. (2014). Fleksibilitas Ruang Perkotaan di Kawasan Balubur-Tamansari Kota Bandung (Issue 0011046901). Universitas Diponegoro Semarang.

Permana, A. Y., Akbardin, J., & Nurrahman, H. (2020). Development of Urban Space Based on Student Migrants in Bandung City, Indonesia. Journal of Physics: Conference Series, 1625(1). https://doi.org/10.1088/1742-6596/1625/1/012003

Sucipto. Toto (2010). Eksistensi Keraton Di Cirebon Kajian Persepsi Masyarakat Terhadap Keraton-Keraton Di Cirebon, (Vol. 2, No. 3, 2010) Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Bandung Jln. Cinambo No. 136 Ujungberung Bandung.

Susanti, I., Permana, A. Y., Pratiwi, W. D., & Widiastuti, I. (2020). Territorial space: Structural changes in a religious tourism area (The case of Kampung Mahmud in Bandung,West Java, Indonesia). IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 447(1). https://doi.org/10.1088/1755-1315/447/1/012031

Susanti, I. S., Komala Dewi, N. I., & Permana, A. Y. (2018). Tatanan Teritorial dalam Proses Transformasi Hunian. Jurnal Arsitektur ZONASI, 1(1), 27. https://doi.org/10.17509/jaz.v1i1.11542

Wibowo. Heru, Marwoto, Putra. W. B. (2022). Komponen Pembentuk Ruang Kota Alun-Alun Cianjur, Vol.6, No.3, Jurnal Arsitektur ARCADE.

Wijaya, K., & Permana, A. Y. (2018). Textile Tourism Image as an Identity of Cigondewah in Bandung City Textile Tourism Image as an Identity of Cigondewah in Bandung City. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 213(1), 012012. https://doi.org/10.1088/1755-1315/213/1/012012

Wijaya, K., Permana, A. Y., Sugandi, D., & Nurrohman, F. (2020). Settlement Pattern of the Village of Dayeuh Luhur, Sumedang. Journal of Architectural Research and Education, 2(1), 55. https://doi.org/10.17509/jare.v2i1.24292




DOI: https://doi.org/10.17509/jaz.v6i1.49008

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2023 Dwi Kustianingrum

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.