NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM UPACARA ADAT RITUS TIWU PANGANTEN DI KECAMATAN BABAKAN KABUPATEN CIREBON (Analisis Struktural-Semiotik)

FIET HARYADI

Abstract


Kebudayaan identik dengan kesenian, upacara-upacara adat yang dilaksanakan oleh beberapa kelompok suku bangsa, pakaian adat, cerita rakyat atau legenda serta kesusastraan. Kebudayaan juga sering dikaitkan dengan segala hal yang tradisional. Salah satu contohh kebudayaan yang melekat di masyarakat Sunda, khususnya di Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon yaitu Upacara Adat Ritus Tiwu Panganten (UARTP). UARTP yaitu upacara iring-iringan pengantin tebu yang diarak dari balai pertamuan Pabrik Gula Tersana Baru sampai ke dalam Pabrik Gula Tersana Baru. Dalam UARTP mengandung unsur struktural yang merupakan susunan acara dalam kegiatannya, serta mengandung unsur semiotik yaitu ikon, indeks, simbol, alat, dan pelaku. Selain unsur structural-semiotik, UARTP juga mempunyai nilai kearifan lokal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif. Yang dideskripsikannya adalah tentang nilai kearifan lokal dalam UARTP dikaji dari unsur struktural semiotiknya. Setelah dianalisis, nilai-nilai yang terdapat dalam UARTP yaitu nilai kesejahteraan, kerja keras, disiplin, pendidikan, kesehatan, gotong royong, pengelolaan gender, pemeliharaan budaya, perduli lingkungan, ketenteraman, sopan santun, kejujuran, kesetiakawanan sosial, kerukunan dan penyelesaian konflik, komitmen, pikiran positif, dan rasa syukur. Konsép yang terdapat dalam UARTP, yaitu konsep- konsep permainan, folklor, ritus, mite, punduh, magi, teater. Fungsi yang terdapat dalam UARTP yaitu fungsi hiburan (rekreatif), alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan (kultural), alat pendidikan anak (edukatif), dan alat pemaksa atau pangawas agar norma-norma masyarakat akan terpanuhi (sosial). Unsur semiotik yang terdapat dalam UARTP yaitu unsur ikon, indeks, dan simbol.
 


Culture is identical to artistry, indigenous ceremonies carried out by some ethnic groups, custom clothing, folk tales or legends and literatures. Culture is often associated with all things traditional. One form of Sundanese culture, especially in Babakan subdistrict of Cirebon district is the Traditional Ceremony of Bride’s Sugarcane Rite. This is a parade ceremony of sugarcane bride from New Tersana meeting hall to the New Tersana building. This ceremony contains structural elements in the form of programs. It also comprises elements of semiotics, which include icons, indexes, symbols, tools and actors. In addition, the ceremony contains local wisdom. The method used in this research is a descriptive method. It delineates the local wisdom extracted from the ceremony by examining semiotic structural elements. Results indicate that the ceremony has many values namely hardworking,discipline, education, health, mutual-cooperation, management of gender, cultural preservation, environmental care, security, courtesy, honesty, social solidarity, harmony and conflict resolution, commitment, positive thoughts and gratitude. The concepts identifiable in the ceremony include the concepts of games, folklores, rite, mites, punduh, magi, and theater. The ceremony has the following functions: entertainment (recreational), instrument of ratification and cultural institutions (cultural), children education tools (educational), and corecive tools to ensure that societal norms are met (social). The semiotic elements found in the ceremony are icon, indexes and symbols.


Keywords


kearifan lokal, UARTP, struktural semiotik, local wisdom, the traditional ceremony of bride’s sugarcane rite, structural semiotics.

Full Text:

PDF

References


Dananjaja, J. (2002). Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain. Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti.

Deanastasia. (2011). tersedia di: www. kaarifan lokal wikapedia.com.2011

Endraswara, S. (2012). Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Pudentia. (2008). Metodologi Kajian Sastra Lisan. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).

Santosa, P. (1993). Ancangan Semiotika dan Pengkajian Sastra. Bandung: Angkasa.

Sudjiman, P. dan Zoest, A.V. (1996). Serba Serbi Semiotika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.




DOI: https://doi.org/10.17509/jlb.v4i2.3133

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2016 FIET HARYADI



View My Stats

Lisensi Creative Commons
This work is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.