Nilai Etnopedagogi dalam Lagu dan Alat Musik Calung Renteng: Penerapam Nilai Pendidikan Karakter di SMPN 3 Pandeglang
Abstract
Penelitian ini bertujuan mengkaji nilai etnopedagogi dalam alat musik dan lagu calung renteng sebagai sarana pelestarian budaya serta pendidikan karakter di SMPN 3 Pandeglang. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan orientasi etnografi pendidikan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap aktivitas sanggar calung renteng. Analisis dilakukan dengan pendekatan semiotik dan hermeneutik untuk menafsirkan makna filosofis alat musik dan lirik lagu susualan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa calung renteng tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi seni, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan spiritual. Setiap instrumen—seperti tilingtit, calung renteng cucuk lauk, calung melodi, suling salendro, calung gedé, kecrék, dan goong saléndro—mengandung nilai filosofis yang mencerminkan prinsip etnopedagogi Sunda silih asah, silih asih, silih asuh. Lagu-lagu Calung Renteng seperti Koromongan, Adem Ayem, Uti-uti Uri, Wawayangan, dan Célémentré memuat pesan moral tentang ketulusan, perjuangan, kesabaran, dan kesadaran diri. Implementasi etnopedagogi di SMPN 3 Pandeglang tampak melalui sistem tutor sebaya, kegiatan Kamis Nyeni, serta inovasi alat musik yang memperkuat regenerasi budaya peserta didik. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan berbasis budaya lokal seperti Calung Renteng mampu memperkuat jati diri, menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya Sunda, serta menjadi model pendidikan karakter yang kontekstual dan transformatif.
This study aims to examine the ethnopedagogical values embedded in the musical instruments and songs of calung renteng as a medium for cultural preservation and character education at SMPN 3 Pandeglang. The research employed a descriptive qualitative approach with an educational ethnographic orientation. Data were collected through observations, interviews, and documentation of activities in the calung renteng studio. The analysis used semiotic and hermeneutic approaches to interpret the philosophical meanings of the instruments and the lyrics of susualan songs. The findings reveal that calung renteng functions not only as an artistic expression but also as a medium for moral, social, and spiritual education. Each instrument—such as tilingtit, calung renteng cucuk lauk, calung melodi, suling salendro, calung gedé, kecrék, and goong saléndro—contains philosophical values reflecting the Sundanese ethnopedagogical principles of silih asah, silih asih, and silih asuh. Calung Renteng songs such as Koromongan, Adem Ayem, Uti-uti Uri, Wawayangan, and Célémentré convey moral messages related to sincerity, perseverance, patience, and self-awareness. The implementation of ethnopedagogy at SMPN 3 Pandeglang is reflected through peer tutoring systems, the Kamis Nyeni (Art Thursday) program, and innovations in musical instruments that reinforce cultural regeneration among students. This study asserts that local culture–based education such as Calung Renteng can strengthen identity, cultivate pride in Sundanese cultural heritage, and serve as a contextual and transformative model of character education.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Alamsyah Z., & Suherman, A. (2022). Karinding: dari ungkapan hati menjadi karya seni (sebuah tinjauan etnomusikologi). Virtuoso, 5(2), 125-133.
Alwasilah, A. C. (2009). Etnopedagogi: Landasan praksis pendidikan berbasis budaya. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Alwasilah, A. C., Suryadi, K., & Karyono, T. (2009). Etnopedagogi: Landasan praktik pendidikan dan pendidikan guru. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Emah, A., Nurhasanah, A., & Maryuni, Y. (2023). Perkembangan kesenian tradisional calung renteng di Kecamatan Cibaliung Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Panalungtik, 6(2), 97–114.
Fahira, H., Dewi, D. A., & Hayat, R. S. (2023). Peran pendidikan sebagai sarana pelestarian budaya sekitar bagi peserta didik. Jurnal Multidisiplin Indonesia, 1(3), 45–53.
Furqon. (2015). Etnopedagogi dalam konteks pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Bandung: UPI Press.
Karyono, T. (2023). Implementasi etnopedagogi dalam pembelajaran berbasis kearifan lokal. Bandung: UPI Press.
Meijer, J. J. (1890). Catatan tentang kebiasaan petani huma di Banten Selatan. Leiden: KITLV.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1992). Analisis data kualitatif. Jakarta: UI Press.
Mudjiyanto, B & Nur E. (2013) Semiotika dalam metode penelitian komunikasi. Pekommas: Jurnal Penelitian Komunikasi, Informatika dan Media Massa, 16(1), 73-81.
Ghaida, N, & Sinamo, F. (2023). Susualan: Puisi rakyat agraris Sunda Banten. Bandung: Balai Bahasa Jawa Barat.
Ghaida, N, & Sinamo, F. (2022). Upaya pelestarian susualan melalui calung renteng khas Banten selatan. Bebasan: Jurnal Kebahasaan dan Kesastraan, 9 (2).
Priadi Surya. (2022). Pendekatan etnopedagogi dalam pembelajaran berbasis budaya lokal. Jakarta: Kencana.
Rahmawati, D., Sugara, U., & Sugito. (2020). Etnopedagogi: Gagasan dan peluang penerapannya di Indonesia. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 7(2), 93–104.
Kemendikbud-ristek. (2025). Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2025 tentang standar kompetensi lulusan pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang pendidikan menengah. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Rosidi, A. (2020). Kearifan lokal dalam persepektif budaya Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.
RRI Banten. (2024). Calung renteng, alat musik tradisional khas Banten. RRI Banten Features. https://rri.co.id/banten/features/671181/calung-renteng-alat-musik-tradisional-khas-banten.
Savitri, A. S., Dewi, D. A., & Hayat, R. S. (2024). Upaya pelestarian budaya di era globalisasi melalui pendidikan kewarganegaraan. Jurnal Inspirasi Dunia: Riset Pendidikan dan Bahasa, 3(1), 142–149.
Sibarani, R. (2012). Kearifan lokal: hakikat, peran, dan metode tradisi lisan. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan.
Sudaryat, Y. (2021). Etnolinguistik Sunda. Bandung: UPI Press.
Suryalaga, H. R. H. (2010). Kasundaan-rawayan jati. Bandung: Yayasan Hidayat Suryalaga.
Suswandri. (2017). Kearifan lokal dan pendidikan karakter dalam konteks budaya Indonesia. Yogyakarta: Deepublish.
Sutarno. (2017). Filsafat etnopedagogi Sunda. Bandung: UPI Press.
Tersiana, A. (2022). Metode penelitian: dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia.
Widiagiri, D. (2017). Sisindiran jeung wawangsalan anyar. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: the development of higher psychological processes. Cambridge, MA: Harvard University Press.
DOI: https://doi.org/10.17509/jlb.v16i2.91874
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2025 LOKABASA

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

This work is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









