DESAKRALISASI RONDANG BINTANG PADA MASYARAKAT SIMALUNGUN

Sara Dewanti Purba, Jenny Margaretha Silaban

Abstract


Pelaksanaan Rondang Bintang sebagai sarana ucapan syukur Panen Raya dan ajang pencarian jodoh untuk kaum muda yang dilakukan sekali dalam setahun dan sakral dilakukan hanya pada malam hari saat terang bulan di halaman kerajaan. Ritual yang awalnya dilakukan oleh masyarakat Simalungun telah mengalami desakralisasi dari berbagai aspek mulai dari fungsi, pelaksana dan tempat pelaksanaan sampai rangkaian acara. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan desakralisasi dalam pelaksanaan Rondang Bintang di Kab. Simalungun dengan metode penelitian pendekatan kualitatif deskriptif studi kasus. Pendekatan ini dipilih untuk mendalami perubahan-perubahan makna dan pelaksanaan yang terjadi pada Rondang Bintang di Kab. Simalungun. Temuan penelitian ini: (1) Pesta Rondang Bintang menjadi ajang perlombaan antar kecamatan, (2) pelaksanaan Rondang Bintang dilaksanakan ditempat umum; dan (3) melibatkan bintang tamu lokal maupun nasional. Pesta Rondang Bintang mengalami fenomena desakralisasi dari aspek fungsinya yang berubah kemudian pelaksanaan Rondang Bintang yang dilakukan di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Simalungun dan bukan lagi oleh masyarakat setempat, serta motivasi partisipan dalam meraih gelar juara dan mendapat hadiah dari pemerintah Kab. Simalungun maupun pengelola dengan tujuan aktivasi masyarakat Simalungun pada setiap rangkaian acara. Kemudian selain pergeseran fungsi, tempat dan pengelola, desakralisasi ini juga terjadi pada aspek kedudukan sosial seperti mengundang  juri, seniman lokal, budayawan, artis lokal maupun nasional pada Pelaksanaan Pesta Rondang Bintang.

References


Cahnman, W. J. (1964). Sociology and history: Theory and research (A. Boskoff, Ed.). The Free Press Glencoe.

Cohen, E. (1988). Authenticity and commoditization in tourism. Annals of Tourism Research, 15, 371–386.

Creswell, J. W. (2013). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (3rd ed.). SAGE.

Debby, Y., Hartiana, T. I. P., & Krisdinanto, N. (2020). Desakralisasi film horor Indonesia dalam kajian reception analysis. ProTVF: Jurnal Kajian Televisi dan Film, 4(1), 1–19.

Hutabarat, S., Ripai, M., Napitupulu, P. V. A., Harahap, S., Amelia, R., Arif, S., & Siallagan, L. (2024). Strategi pelestarian budaya Simalungun melalui pesta Rondang Bintang. JERUMI: Journal of Education Religion Humanities and Multidisciplinary, 2(2), Desember 2024.

Lubis, R. F., & Saleh, I. (2024). Desakralisasi ritual tolak bala dalam perspektif fenomenologis: Tradisi masyarakat Desa Pardamean Baru Mandailing Natal. Empirisma: Jurnal Pemikiran dan Kebudayaan Islam, 33(1), 187–221.

Lestari, M. N. D. (2020). Pelestarian dan komersialisasi Pura Tirta Empul, Desa Manukaya, Kabupaten Gianyar: Kajian komunikasi massa. Maha Widya Duta: Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi, 3(1), 88–94.

Pramestisari, N. A. S., Kebayatini, N. L. N., & Putra, K. A. D. (2023). Komodifikasi nilai kesakralan (transformasi fungsi ruang dalam perspektif heterotopia di Pura Dalem Ped). Jurnal Politik dan Pemerintahan, 3(1).

Purba, S. D., & Aryandari, C. (2023). Rondang Bintang: Pengelolaan pesta 'rakyat' vs pemerintah Kabupaten Simalungun (Tesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta). Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Putri, A. S., & Hartono, R. (2020). Transformasi festival tradisional menjadi event pariwisata: Studi kasus festival kesenian di Jawa Tengah. Jurnal Antropologi Indonesia, 38(1), 55–70

Rahman, K., & Heniwaty, Y. (2021). Eksistensi Tortor Ija Juma Tidahan dalam masyarakat Simalungun di Kabupaten Simalungun. Jurnal Seni Tari, 10(1), 95–103.

Riani, N. K. (2021). Pariwisata adalah pisau bermata 2. Jurnal Inovasi Penelitian, 2(5), 1469–1474.

Sari, N. M., & Putra, I. G. (2021). Peran seniman dalam pelestarian budaya tradisional di era modernisasi. Jurnal Ilmiah Seni dan Budaya, 9(1), 45–56.

Silalahi, D. F., Aprilia, M., Annisa, N., Siregar, S. S., Sigalingging, W., & Lubis, F. (2025). Strategi pelestarian budaya adat Simalungun: Tor-Tor, tarian Huda-Huda, dan Dihar yang hilang dari pesta Rondang Bintang di era modern. JCRD: Journal of Citizen Research and Development, 2(1), Mei 2025.

Sitti Rahmah, Yusnizar, & Raden. (2024). The resilience of Tortor Sirittak Hotang Simalungun through the development of dance learning media. Mudra Jurnal Seni Budaya, 39(1), 118–125.

Windutama, W., Sunarta, I. N., & Wijaya, N. M. S. (2020). Komodifikasi dalam pengembangan tradisi Okokan sebagai atraksi wisata di Desa Kediri, Tabanan. Jurnal Master Pariwisata (JUMPA), 6(2), 452–469.

Wulandari, A. M. D. S., Putra, G. P. M., Maharani, N. L. G. P., Yuliani, N. P., Herawati, N. M. L., & Astawan, I. G. (2021). Desacralization and commercialization of Kediri village Okokan tradition to support the tourism industry in Bali. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS), 3(8), 3377–3390.

Wulandari, D., & Prasetyo, B. (2022). Dinamika komersialisasi dalam festival budaya tradisional di Indonesia. Jurnal Pariwisata dan Budaya, 10(2), 120–134.

Wulandari, R., Upadani, I. G. A. W., & Alfarisi, S. (2020). Okokan tradition: Understanding noble value in the frame of symbolic interactionalism. International Journal of Applied Sciences in Tourism and Events, 4(1), 74–85.




DOI: https://doi.org/10.17509/swara.v5i2.87448

Refbacks

  • There are currently no refbacks.