MOTIF TENUN SONGKET SILUNGKANG: STUDI KASUS RUMAH TENUN SIGEK ART

Gita Olivia Utami, Agusti Efi, Weni Nelmira, Ilham Zamil

Abstract


Silungkang songket weaving is a cultural textile heritage of the Minangkabau community that embodies significant traditional and cultural values. However, systematic documentation of motif variations produced by household-scale weaving enterprises remains limited, while the transmission of motif knowledge to younger weavers tends to be increasingly market-oriented, with limited understanding of the philosophical meanings embedded in these motifs. This study aims to describe the names and visual forms of Silungkang songket weaving motifs and to analyze the symbols and philosophical meanings they convey, focusing on a case study of Sigek Art Weaving House in Silungkang Duo, Nagari Silungkang, Sawahlunto City. This research employed a descriptive qualitative approach using a case study strategy to explore in depth the naming, visual characteristics, and philosophical meanings embedded in Silungkang songket motifs. Data were collected through three complementary methods: direct field observation, in-depth interviews with the business owner and weavers, and visual documentation as supporting data. The findings indicate that: (1) Sigek Art produces various products made from Silungkang songket fabric, including bags, scarves, pouches, handbags, batulih scarves, and keychain souvenirs; (2) eight main motifs are produced by Sigek Art, namely Pucuk Rebung, Burung Rimbo, Penari Payung, Rangkiang, Itik Pulang Petang, Rumah Gadang, Saik Kalamai, and Tugu Nagari Perintis; and (3) these Silungkang songket motifs embody symbols and philosophical meanings associated with growth, freedom, togetherness, order, customary identity, and respect for history. These findings emphasize that weaving motifs are not merely aesthetic ornaments but also serve as a medium for conveying the values and worldview of the Silungkang community. Systematic documentation of these motifs is therefore essential to preserve this cultural knowledge and prevent its loss amid social and cultural changes over time.

 

Tenun songket Silungkang merupakan warisan tekstil budaya masyarakat Minangkabau yang mengandung nilai adat dan budaya yang kuat. Namun, dokumentasi sistematis mengenai ragam motif yang dihasilkan oleh unit usaha tenun berskala rumah tangga masih terbatas. Di sisi lain, proses pewarisan pengetahuan tentang motif kepada generasi perajin muda cenderung semakin berorientasi pada kebutuhan pasar sehingga pemahaman terhadap makna filosofis yang terkandung dalam motif berpotensi mengalami pengurangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nama dan bentuk visual motif tenun songket Silungkang serta menganalisis simbol dan makna filosofis yang terkandung di dalamnya dengan mengambil studi kasus pada Rumah Tenun Sigek Art di Silungkang Duo, Nagari Silungkang, Kota Sawahlunto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan strategi studi kasus untuk menggali secara mendalam penamaan, bentuk visual, serta makna filosofis yang terkandung dalam motif tenun songket Silungkang. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik yang saling melengkapi, yaitu observasi langsung di lapangan, wawancara mendalam dengan pemilik usaha dan perajin tenun, serta dokumentasi visual sebagai data pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Sigek Art menghasilkan berbagai produk berbahan kain tenun songket Silungkang, meliputi tas, syal, pouch, handbag, syal batulih, dan suvenir gantungan kunci; (2) terdapat delapan motif utama yang diproduksi oleh Sigek Art, yaitu Pucuk Rebung, Burung Rimbo, Penari Payung, Rangkiang, Itik Pulang Petang, Rumah Gadang, Saik Kalamai, dan Tugu Nagari Perintis; serta (3) motif-motif tenun songket Silungkang yang diproduksi Sigek Art mengandung simbol dan makna filosofis yang berkaitan dengan nilai pertumbuhan, kebebasan, kebersamaan, keteraturan, identitas adat, dan penghormatan terhadap sejarah. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa motif tenun tidak hanya berfungsi sebagai unsur hias yang memiliki nilai estetis, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan dan pandangan budaya masyarakat Silungkang. Oleh karena itu, dokumentasi motif secara sistematis penting dilakukan sebagai upaya menjaga keberlanjutan pengetahuan budaya dan mencegah hilangnya nilai-nilai yang terkandung dalam motif tenun seiring dengan perubahan zaman.


Full Text:

PDF

References


Anas, B. (2012). Simbol dan makna dalam ragam hias tradisional. [Lengkapi data penerbit sesuai sumber asli skripsi].

Budiwirman. (2010). Tenun songket Minangkabau: Kajian bentuk dan makna. [Lengkapi data penerbit sesuai sumber asli skripsi].

Efi, A. (2019). Studi kasus motif tenun Sipirok di Desa Aek Bayur Kota Padang Sidempuan. Jurnal Kapita Selekta Geografi, 2(7), 64–72.

Febriani, T., & Efi, A. (2020). Tenunan songket Balai Panjang (studi kasus di sentra tenunan Balai Panjang kel. Balai Panjang kec. Payakumbuh Selatan). Indonesian Journal of Education Research, 1(1), 45–50.

Febryanti, D., & Yuliarma, Y. (2025). Kajian perubahan tata busana pengantin tradisional wanita di Kabupaten Pesisir Selatan. Jurnal Ilmiah Dikdaya, 15(1), 181–190.

Handayani, W. (2023). Motif dan identitas budaya dalam tenun tradisional. [Lengkapi data penerbit sesuai sumber asli skripsi].

Iskandar, R. (2017). Analisa identitas songket Silungkang dengan pendekatan desain komunikasi visual. Proceeding Seminar Nasional Desain Media.

Izzara, W., Aliffa, W., & Nelmira, W. (2021). Desain motif tenun songket Minangkabau di usaha Rino Risal Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 423–431.

Kartiwa, S. (1989). Tenun ikat: Indonesian ikats. Djambatan.

Melinda, S., Fitlayeni, R., & Ariesta. (2021). Pemberdayaan masyarakat pengrajin songket Silungkang di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Jurnal Socius: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Sosiologi, 8(2), 113–124.

Meyliona, G., Adriani, A., & Nelmira, W. (2013). Studi tentang tenunan Pandai Sikek di Rumah Tenun Pusako Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar. Journal of Home Economics and Tourism, 4(3), 7003.

Navis, A. A. (1984). Alam terkembang jadi guru: Adat dan kebudayaan Minangkabau. Grafiti Pers.

Nelmira, W., Meyliona, G., & Adriani, A. (2013). Tenunan Pandai Sikek di Rumah Tenun Pusako Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar. Penerbit UNP.

Nirma Rupa, & Polencis Pare RI. (2021). Simbol sebagai tanda dan makna kolektif dalam budaya visual. [Lengkapi data penerbit sesuai sumber asli skripsi].

Putri, A. D., & Efi, A. (2022). Studi tentang teknik menenun songket Rawang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) di Rumah Tenun Songket Rawang Kabupaten Agam. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 238–245.

Putri, S. (n.d.). Studi tentang desain motif tenun Siak di Kecamatan Siak Provinsi Riau. EDUTECH, 24(2), 1231–1238. [Perlu cek tahun terbit asli].

Rahmawati. (2022). Prinsip desain dalam pembentukan motif ragam hias tekstil. [Lengkapi data penerbit sesuai sumber asli skripsi].

Salamun. (2013). Keragaman motif tenun nusantara: Perspektif geografis dan budaya. [Lengkapi data penerbit sesuai sumber asli skripsi].

Sari, M., Efi, A., & Adriani, A. (2015). Tenunan songket Melayu Riau di Kota Dumai Provinsi Riau. E-Journal Home Economic and Tourism, 10(3).

Silvia Devi. (2015). Songket Silungkang: Filosofi dan fungsi sosial dalam masyarakat Minangkabau. [Lengkapi data penerbit sesuai sumber asli skripsi].

Sugiyono. (2016). Metode penelitian kombinasi (mixed methods). Alfabeta.

Sugiyono. (2017). Metode penelitian pendidikan: Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Syafrini, D., et al. (2021). Songket Silungkang sebagai warisan budaya dan identitas masyarakat Minangkabau. [Lengkapi data jurnal/penerbit sesuai sumber asli skripsi].

Zamil, I. (2022). Honest characters in Minangkabau songket motifs. LANGGAM: International Journal of Social Science Education, Art and Culture, 1(1), 17–25.

Zamil, I., et al. (2023). An analysis of women, education and Minangkabau songket. Jurnal Pendidikan dan Keluarga, 15(2), 50–57.




DOI: https://doi.org/10.17509/e.v25i3.104357

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2026 EDUTECH

Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.
Copyright © 2018 Edutech