TENUNAN SONGKET SILUNGKANG: STUDI KASUS GALERI CENO
Abstract
Silungkang songket is a traditional Minangkabau textile that embodies cultural values and symbolic meanings. Songket motifs function not merely as decorative elements but also reflect the customs and way of life of the community. However, the development of modern times has led to a decline in public understanding, especially among the younger generation, regarding the meanings of songket motifs. This study aims to examine the cultural values embedded in Silungkang songket weaving through its products, motifs, and the meanings of those motifs.The research was conducted at Ceno Songket Gallery in Silungkang, located in Sawahlunto City, West Sumatra. This location was selected because the gallery is one of the production centers actively preserving the traditional values of Silungkang songket. The study employed a qualitative approach with a case study method to obtain an in-depth understanding of the products, motifs, and meanings of the songket produced. Data were collected through interviews with relevant informants, direct observation of the production process and results, and documentation to support and strengthen the research findings. The results of the study conducted at Ceno Songket Gallery Silungkang are as follows: (1) the products produced include Silungkang songket sarongs, Silungkang songket shawls, and songket handbags manufactured by Ceno Songket Gallery; (2) the motifs found at Ceno Songket Gallery consist of the Buruang dalam Rimbo motif, Pucuak Rabuang motif, Itiak Pulang Patang motif, Tampuak Manggih motif, Kaluak Paku motif, Saik Galamai motif, Tirai Pucuak Jaguang motif, and Balah Kacang motif; and (3) the meanings of these motifs are as follows: the Buruang dalam Rimbo motif symbolizes harmony with nature; the Pucuak Rabuang motif represents growth and hope; the Itiak Pulang Patang motif reflects togetherness and discipline; the Tampuak Manggih motif symbolizes equality; the Kaluak Paku motif signifies self-awareness; the Saik Galamai motif represents a planned and modest life; the Tirai Pucuak Jaguang motif symbolizes prosperity; and the Balah Kacang motif represents humility and simplicity.
Songket Silungkang merupakan kain tradisional Minangkabau yang memiliki nilai budaya dan makna simbolik. Motif songket tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga mencerminkan adat dan cara hidup masyarakat. Namun, perkembangan zaman menyebabkan berkurangnya pemahaman masyarakat, terutama generasi muda, terhadap makna motif songket. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai budaya pada tenunan songket Silungkang melalui produk, motif, dan makna motif yang digunakan. Penelitian ini dilakukan di Galeri Ceno Songket Silungkang yang berlokasi di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Lokasi ini dipilih karena galeri tersebut merupakan salah satu sentra produksi dan pelestarian songket Silungkang yang masih aktif mempertahankan nilai-nilai tradisional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai produk, motif, dan makna songket yang dihasilkan. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan informan terkait, observasi langsung terhadap proses dan hasil produksi, serta dokumentasi sebagai data pendukung untuk memperkuat temuan penelitian. Hasil penelitian yang dilakukan di Galeri Ceno Songket Silungkang Adalah sebagai berikut: (1) produk yang dihasilkan meliputi sarung songket Silungkang, selendang songket Silungkang, dan tas jinjing songket produksi Galeri Ceno Songket; (2) motif songket yang terdapat di Galeri Ceno Songket Silungkang terdiri atas Motif Buruang dalam Rimbo, Motif Pucuak Rabuang, Motif Itiak Pulang Patang, Motif Tampuak Manggih, Motif Kaluak Paku, Motif Saik Galamai, Motif Tirai Pucuak Jaguang, dan Motif Balah Kacang; serta (3) makna motif songket, yaitu Motif Buruang dalam Rimbo melambangkan keharmonisan dengan alam, Motif Pucuak Rabuang sebagai simbol pertumbuhan dan harapan, Motif Itiak Pulang Patang mencerminkan kebersamaan dan kedisiplinan, Motif Tampuak Manggih melambangkan kesetaraan, Motif Kaluak Paku bermakna kesadaran diri, Motif Saik Galamai menggambarkan hidup terencana dan hemat, Motif Tirai Pucuak Jaguang sebagai simbol kemakmuran, serta Motif Balah Kacang melambangkan kerendahan hati dan kesederhanaan.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Amelia, R. (2023). Makna simbolik motif tenun songket pada upacara adat Melayu. Jurnal Seni dan Budaya, 8(2), 45–58.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2023). Kamus Besar Bahasa
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2023). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) [Versi daring]. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Barthes, R. (1986). Elements of semiology. New York, NY: Hill and Wang.
Basrowi. (2014). Metodologi penelitian sosial budaya. Bandung: Alfabeta.
Dajasudarma, F. (1999). Semantik 1: Pengantar ke arah ilmu makna. PT Eresco.
Dewi, S. (2019). Motif dalam desain seni kontemporer Indonesia. Jurnal Seni dan Desain Indonesia, 6(2), 65-70.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto. (2023). Laporan pelestarian tenun songket Silungkang tahun 2023. Sawahlunto: Pemerintah Kota Sawahlunto.
Efendi, A. (1981). Pengantar kebudayaan Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Efrizal. 2011. Motif Seni Ukiran Tradisional Minangkabau: Bentuk, Fungsi, dan
Fitriani, M. (2019). Pelestarian nilai budaya melalui motif tenun songket di Sumatera Barat. Jurnal Kriya dan Tekstil Indonesia, 5(1), 22–33.
Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. New York, NY: Basic Books.
Hakim, A. (2020). Kearifan lokal dalam industri kreatif berbasis budaya. Jurnal Humaniora dan Sosial Budaya, 4(3), 123–136.
Hendra, H., & Agustin, D. (2022). Eksistensi Tenun Songket Halaban Kabupaten Lima Puluh Kota. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 202.
Hidayat, H., Gunadi, G., Arlangga, L., & Yulianti, F. (2020). Pengelolaan Kain Tenun Songket Khas Palembang di desa Pedu Kabupaten Jejawi Kecamatan Ogan Komering Ilir (OKI). Spekta, 1(1), 21-30.
Iswandi, A., Nur, L., & Ramadhani, F. (2024). Pelestarian budaya tekstil tradisional di era globalisasi. Jurnal Artefak Budaya, 12(2), 77–89.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (n.d.). Makna. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Kartiwa, S. (1996). Tenun tradisional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Kluckhohn, C., & Strodtbeck, F. L. (1961). Variations in value orientations. Evanston, IL: Row, Peterson and Company.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Malinowski, B. (1944). A scientific theory of culture and other essays. Chapel Hill, NC: University of North Carolina Press.
Merriam, S. B., & Tisdell, E. J. (2016). Qualitative research: A guide to design and implementation (4th ed.). San Francisco, CA: Jossey-Bass.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2020). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (4th ed.). SAGE Publications.
Nilai - Nilai Filosofi. Padang: PPS Unp.
Nuraini, L., & Falah, R. (2022). Pelestarian tenun tradisional sebagai warisan budaya lokal di era modernisasi. Jurnal Besaung: Seni dan Budaya Nusantara, 4(1), 56–68.
Nuryanti, S. (2018). Peran perempuan dalam pelestarian songket Silungkang. Jurnal Besaung: Seni dan Budaya Nusantara, 2(1), 15–27.
Putri, A. D., & Efi, A. (2022). STUDI TENTANG TEKNIK MENENUN SONGKET RAWANG MENGGUNAKAN ALAT TENUN BUKAN MESIN (ATBM) DI RUMAH TENUN SONGKET RAWANG KABUPATEN AGAM. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 238-245.
Sari, M., Efi, A., & Adriani, A. (2015). Tenunan Songket Melayu Riau di Kota Dumai Provinsi Riau. E-Journal Home Economic and Tourism, 10(3).
Sedyawati, E. (2010). Nilai dan kearifan dalam kebudayaan Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Setiati, R. (2008). Seni rupa dan desain: Konsep, motif, dan aplikasi. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
Sri, D. (2024). Pengembangan motif songket tradisional sebagai warisan budaya daerah. Jurnal Desain Komunikasi Kreatif, 9(1), 66–75.
Sugiyono. (2017). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suharto, B. (2017). Motif sebagai elemen dasar dalam seni rupa Indonesia. Jurnal Seni dan Desain Indonesia, 4(1), 50-55.
Suhersono, H. (2005). Desain dan motif dalam karya seni rupa Indonesia. Penerbit Seni Nusantara.
Sujanem, R. (2018). Pelestarian nilai budaya lokal dalam industri kreatif tekstil tradisional. Jurnal Relief Seni dan Budaya, 5(2), 88–101.
Suparlan, P. (1984). Kebudayaan, masyarakat dan agama. Jakarta: UI Press.
Supriyansah, A., & Hasanudin, H. (2021). Analisis motif tenun tradisional Indonesia dalam perspektif nilai budaya. Jurnal Artefak: Seni dan Desain Indonesia, 9(2), 33–44.
UNESCO. (2003). Convention for the safeguarding of the intangible cultural heritage. Paris: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.
Utami, D. (2016). Makna simbolik tenun songket dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Jurnal Humaniora, 28(2), 137–145.
Utomo, A., & Tanzil, A. (2022). Strategi revitalisasi kerajinan tenun tradisional Indonesia di era globalisasi. Jurnal Artefak Indonesia, 10(1), 55–67.
Wiyana, P. (2008). Semantik: Teori dan penerapannya. PT Remaja Rosdakarya.
Wulandari, S. (2021). Makna simbolik dan fungsi sosial tenun songket Silungkang di Sumatera Barat. Jurnal Etnografi dan Budaya, 6(3), 34–47.
Yandri, Y. (2014). Tenun Songket Pandai Sikek Dalam Budaya Masyarakat Minangkabau. Humanus, 13(1), 28-34.
Yandri. (2014). Tenun Songket Pandai Sikek dalam Budaya Masyarakat Minangkabau. Jurnal Seni Rupa, XIII(1), 28–29.
Yin, R. K. (2018). Case study research and applications: Design and methods (6th ed.). Los Angeles, CA: Sage Publications.
Yuliani, F. (2022). Eksistensi songket Silungkang dalam perspektif ekonomi kreatif masyarakat lokal. Jurnal Besaung: Seni dan Budaya Nusantara, 3(2), 70–83.
DOI: https://doi.org/10.17509/e.v25i1.97031
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2026 EDUTECH

Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.


















