Dinamika Kesenian Sasapian: Dari Tradisi Ritual hingga Media Promosi Pariwisata (1999-2017)

Elvira Mela Maudina, Saripudin Didin

Abstract


ABSTRACT

This research was written to answer the main problems related to how the dynamics of sasapian art occurred in 1999-2017. This research uses historical methods, consisting of several research steps. First, heuristics( collection of sources), criticisms, and most recent historiography (historical writing). From the research conducted, the results obtained that the appearance of sasapian art in Cihideung Village is backgrounded by the socio-cultural condition of cihideung village people who are very attached to magical life. This sasapian art first appeared between 1920-1940s, when sasapian art was considered as a means of communication between the people and the spirits of ancestors / karuhun, as well as as a form of gratitude to the Creator for abundant crops, and the availability of abundant water. Sasapian art continues to be traditionalized at Hajat cai/Ngaruat Solokan. In 1999, tourism developed in Cihideung Village, a tradition of Hajat cai/Ngaruat Solokan that displays sasapian art slowly began to be abandoned. Sasapian art began to reform as a means of people's entertainment. In 2007, sasapian art innovation was introduced under the name Sapi Gumarang, and created a tourism event called Cihideung Festival, since then sasapian arts changed function as a means of promoting tourism, which supports the implementation of creative economy in Cihideung Village. Factors that influence the dynamics that occur in Cihideung Village are globalization, tourism rate, and artist creativity.

Keywords: Sasapian Art, Cihideung Village, Ritual Traditions, Tourism.

ABSTRAK

Penelitian ini ditulis guna menjawab permasalahan utama terkait bagaimana dinamika kesenian sasapian yang terjadi pada tahun 1999-2017. Penelitian ini menggunkan metode historis, yang terdiri dari beberapa langkah penelitian. Pertama, heuristik (pengumpulan sumber), kritik, dan yang terkahir historiografi (penulisan sejarah). Dari penelitian yang dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa kemunculan kesenian sasapian di Desa Cihideung dilatar belakangi oleh kondisi sosial budaya masyarakat Desa Cihideung yang sangat lekat dengan kehidupan magis. Kesenian sasapian ini muncul pertama kali antara tahun 1920-1940-an, saat itu kesenian sasapian dianggap sebagai sarana komunikasi antara masyarakat dengan roh-roh leluhur/karuhun, serta sebagai wujud penyampaian rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil panen yang melimpah, dan ketersediaan air yang melimpah pula. Kesenian sasapian terus ditradisikan pada acara Hajat cai/Ngaruat Solokan. Tahun 1999, pariwisata berkembang di Desa Cihideung, tradisi Hajat cai/Ngaruat Solokan yang menampilkan kesenian sasapian perlahan mulai ditinggalkan. Kesenian sasapian mulai bertranformasi sebagai sarana hiburan rakyat. Tahun 2007 diperkenalkan bentuk inovasi kesenian sasapian dengan nama Sapi Gumarang, serta dibuat event pariwisata bernama Cihideung Festival, sejak saat itu kesenian sasapian berubah fungsi sebagai sarana media promosi pariwisata, yang mendukung terlaksananya ekonomi kreatif di Desa Cihideung. Faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika yang terjadi di Desa Cihideung yaitu globalisasi, laju pariwisata, dan kreatifitas seniman.

Kata Kunci: Kesenian Sasapian, Desa Cihideung, Tradisi Ritual, Pariwisata.

Keywords


Kesenian Sasapian, Desa Cihideung, Tradisi Ritual, Pariwisata.

Full Text:

PDF

References


Amri, dkk. (2017). Keberlangsungan tari tradisional di tengah globalisasi media. Bercadik: Jurnal pengkajian dan penciptaan seni, 4(2), 186-195. [Online]. Diakses dari http://www.journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/Bercadik/article/view/572.

Duija, I. N. (2005). Tradisi Lisan, Naskah, dan Sejarah: Sebuah Catatan Politik Kebudayaan. Wacana, 7(2), 111-124. [Online]. Diakses dari https://brill.com/view/journals/waca/7/2/article-p111_2.xml.

Gottschalk, L. (1975). Understaning History: A primer of historical method. Notosusanto, N. (Penerjemah). Mengerti Sejarah: Pengantar metode sejarah. Depok: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.

Gunawan, H., dkk. (2015). Analisis Perubahan Sosial Budaya masyarakat Desa Cihideung sebagai desa wisata. Jurnal Sosietas, 5(2), 1-9. [Online]. Diakses dari http://repository.upi.edu/14459/&ved.

Herlinawati, L. (2011). Ngaruat solokan di Desa Cihideung Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Patanjala3(2), 296-314. [Online]. Diakses dari http://ejurnalpatanjala.kemdikbud.go.id/patanjala/index.php.

Ismaun, dkk. (2016). Pengantar ilmu sejarah. Jakarta: Asosiasi Pendidik dan Peneliti Sejarah (APPS).

Jamil, M. M., Anwar, K., & Kholiq, A. (2011). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lunturnya Kesenian Tradisional Semarang (Studi Eksplorasi Kesenian Tradisional Semarang). Jurnal Riptek, 5(2), 41-51. [Online]. Diakses dari http://bappeda.semarangkota.go.id/v2/wp-content/uploads/2013/12/4.DRAFT-IAIN-8-NOV.pdf

Kapile, C. & Nuraedah. (2017). Studi masyarakat Indonesia. Yogyakarta: Deepublish.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Mubah, A. (2011) Strategi meningkatkan daya tahan budaya lokal dalam menghadapi arus globalisasi. Jurnal UNAIR, 24(4), 302-308. [Online]. Diakses dari http://journal.unair.ac.id/filerPDF/.

Nabila, R. (2016). Kreativitas seni pertunjukan Budaya Nusantara. Bandung Barat: Pringgandani.

Ratnasari, D. (2017). Unsur semiotik dina kasenian Sasapian di Desa Cihideung Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat Pikeun Bahan Pangajaran Maca Artikel Budaya di Kelas XII SMA. (Skripsi). Bandung: Departemen Pendidikan Bahasa Daerah. Universitas Pendidikan Indonesia.

Saidah, N. (2011). Eksplanasi sejarah dan implikasinya dalam pengembangan model pembelajaran SKI untuk MI. Al-Bidayah, 3(2), 237-256. [Online]. Diakses dari https://media.neliti.com/media/publications/284594-eksplanasi-sejarah-dan-implikasinya-dala-c04d129d.pdf.

Sekertaris Desa. (2016). Laporan perkembangan Desa Cihideung. Bandung Barat: Pemerintah Desa Cihideung

Sekertaris Desa. (2016). Profil Desa Cihideung. Bandung Barat: Pemerintah Desa Cihideung.

Sjamsuddin, H. (20 12). Metodelogi sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Soedarsono, R. M. (1999). Seni Pertunjukan Indonesia di era globalisasi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wawancara dengan Enang Adiyana, merupakan seniman/pengurus Sasapian Buhun RW.07 (34 tahun) 22 Februari 2020 di Kampung Cihideung Caringin RW.07 Desa Cihideung Kabupaten Bandung Barat.

Wawancara dengan Komara, merupakan seniman/ketua pengurus Sasapian Buhun RW.07 (63 tahun) 22 Juni 2019 di Kampung Cihideung Caringin RW.07 Desa Cihideung Kabupaten Bandung Barat.

Wawancara dengan Yanto, merupakan seniman/Ketua Padepokan Kalang Kamuning (56 tahun) 8Februari 2020 di Jl. Terusan Sersan Bajuri No.59, Cihideung, Kec.Parongpong, KBB.




DOI: https://doi.org/10.17509/factum.v10i1.28855

Refbacks

  • There are currently no refbacks.