Aransemen Kawih Sunda ”Beca” untuk Paduan Suara sebagai Praksis Pembelajaran Musik Kreatif berbasis Kearifan Lokal

Farhan Reza Paz, Reyhan Swarna Medica, Uni Tawangsasi

Abstract


Aransemen repertoar daerah untuk paduan suara kerap menyusutkan idiom lokal menjadi sekadar ornamen melodi yang dipindahkan, tetapi logika tonal yang menghidupkannya justru ditinggalkan. Artikel ini menafsir ulang persoalan tersebut dari sudut pendidikan musik, dengan bertanya bagaimana proses menggarap dan melatih sebuah aransemen dapat dipahami sebagai praksis pembelajaran musik kreatif yang berakar pada kearifan lokal Sunda. Bahan utamanya adalah “Beca”, aransemen a cappella SATB atas kawih karya Koko Koswara (Mang Koko) yang disusun Farhan Reza Paz. Penelitian ini menggunakan metode practice-based artistic research berorientasi kualitatif dimana proses kreatif diperlakukan sebagai situs utama penelitian, dengan data berupa partitur lintas-revisi, rekaman latihan, dan jurnal reflektif yang dianalisis melalui pemaduan praktik reflektif dan analisis musik. Temuan penelitian pertama, reharmonisasi pelog tidak diwujudkan sebagai penalaan ulang, melainkan sebagai penyuaraan ulang yang mengutamakan koleksi nada pentatonis, jangkar pedal dan ostinato, punktuasi menyerupai gamelan, serta gerak suara non-fungsional. Kedua, idiom cengkok dipertahankan dengan menjaga melodi sebagai lapisan utuh sehingga heterofoni tradisi tertata menjadi polifoni, alih-alih melebur menjadi akor blok. Ketiga, pengalaman para penyanyi menjadi sumber keputusan komposisional sekaligus pembelajaran idiom. Atas dasar itu dirumuskan model pembelajaran reflektif yang menempatkan ruang latihan sebagai ruang belajar. Penelitian ini menawarkan kerangka pedagogis yang dapat dialihkan bagi pembelajaran aransemen dan musik tradisional di pendidikan tinggi musik.

Keywords


aransemen paduan suara; cengkok Sunda; kearifan lokal; pembelajaran musik kreatif; reharmonisasi pelog

References


Burnard, P., & Younker, B. A. (2002). Mapping pathways: Fostering creativity in composition. Music Education Research, 4(2), 245–261. https://doi.org/10.1080/1461380022000011948

Burnard, P., & Younker, B. A. (2004). Problem-solving and creativity: Insights from students’ individual composing pathways. International Journal of Music Education, 22(1), 59–76. https://doi.org/10.1177/0255761404042375

Kilpatrick, C. E. (2020). Movement, gesture, and singing: A review of literature. Update: Applications of Research in Music Education, 38(3), 29–37. https://doi.org/10.1177/8755123320908612

Masunah, J. (2025). Bincarung: Children’s kawih compositions based on Sundanese local wisdom. Malaysian Journal of Music, 14(1), 82–97. https://doi.org/10.37134/mjm.vol14.1.5.2025

Menard, E. A. (2015). Music composition in the high school curriculum: A multiple case study. Journal of Research in Music Education, 63(1), 114–136. https://doi.org/10.1177/0022429415574310

Moore, A. F. (2002). Authenticity as authentication. Popular Music, 21(2), 209–223. https://doi.org/10.1017/S0261143002002131

O’Flynn, J. (2005). Re-appraising ideas of musicality in intercultural contexts of music education. International Journal of Music Education, 23(3), 191–203.

Medica, R. S., & Virgan, H. (2025). Desain pembelajaran mata kuliah harmoni berbasis musik digital dalam mengaransemen lagu. SWARA: Jurnal Antologi Pendidikan Musik, 5(2), 1–12.

Piazza, E. S., & Talbot, B. C. (2021). Creative musical activities in undergraduate music education curricula. Journal of Music Teacher Education, 30(2), 37–50. https://doi.org/10.1177/1057083720948463

Ruswandi, T. (2016). Kreativitas Mang Koko dalam karawitan Sunda. Panggung, 26(1), 92–107. https://doi.org/10.26742/panggung.v26i1.165

Saepudin, A. (2015). Laras, surupan, dan patet dalam praktik menabuh gamelan salendro. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan, 16(1), 52–64. https://doi.org/10.24821/resital.v16i1.1274

Sasaki, M., & Masunah, J. (2021). A review of the Sundanese scale theory. Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 21(2), 318–329. https://doi.org/10.15294/harmonia.v21i2.32995

Satriana, R., Haryono, T., & Hastanto, S. (2014). Kanca Indihiang sebagai embrio kreativitas Mang Koko. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan, 15(1), 32–42.

Schippers, H. (1996). Teaching world music in the Netherlands: Towards a model for cultural diversity in music education. International Journal of Music Education, os-27(1), 16–23.

Schön, D. A. (1983). The reflective practitioner: How professionals think in action. Basic Books.

Skains, R. L. (2018). Creative practice as research: Discourse on methodology. Media Practice and Education, 19(1), 82–97. https://doi.org/10.1080/14682753.2017.1362175

Small, C. (1998). Musicking: The meanings of performing and listening. Wesleyan University Press.

Smith, H., & Dean, R. T. (Eds.). (2009). Practice-led research, research-led practice in the creative arts. Edinburgh University Press.

Spiller, H. (2008). Focus: Gamelan music of Indonesia (2nd ed.). Routledge.

Tsugawa, S., & Voght, M. (2023). Teaching composition in a middle school orchestra classroom: A narrative action research study. Update: Applications of Research in Music Education, 42(1), 61–71. https://doi.org/10.1177/87551233221117258




DOI: https://doi.org/10.17509/irama.v7i2.103075

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2026 Farhan Reza Paz

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

P-ISSN 2686-0902 | E-ISSN 2809-7386

Address :
Faculty of Art and Design Education, Universitas Pendidikan Indonesia.
Jl. Dr. Setiabudi No.229, Isola, Kec. Sukasari,  Bandung, Jawa Barat 40154.
(022)200-9198. [email protected]

Creative Commons License

Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.