Campur Kode dalam Nyanyian Pementasan Sang Hyang Penyalin
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menunjukkan keberadaan campur kode dalam nyanyian Sang Hyang Penyalin yang diadakan di Desa Bugbug, Karangasem. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah nyanyian Sang Hyang Penyalin dengan objek penelitian berupa campur kode. Metode pengumpulan data dilaksanakan dengan studi dokumentasi dan wawancara. Instrumen pengumpulan data menggunakan daftar pertanyaan sebagai penuntun wawancara dan kartu data. Analisis data dilakukan melalui empat tahapan, yaitu identifikasi data, reduksi data, deksripsi data, dan verfikasi. Hasilnya menunjukkan bahwa campur kode yang terjadi terdiri atas: campur kode ke dalam (serumpun) dengan mengambil bahasa Jawa Kuno (Kawi) -- ditemukan sepuluh data; campur kode berdasarkan bentuk kata terdiri atas kata dasar dan imbuhan ditemukan sepuluh data; kemudian campur kode berdasarkan bentuk frasa ditemukan satu data frasa nominal. Selanjutnya ditemukan juga tentang penyebab terjadinya campur kode, yaitu karena penutur menguasai lebih dari satu bahasa dan kesulitan menemukan padanan kata yang sesuai untuk pelengkap makna nyanyian Sang Hyang Penyalin.
This study aims to explain and demonstrate the occurrence of code-mixing in the Sang Hyang Penyalin chant performed in Bugbug Village, Karangasem. The research employs a qualitative descriptive method. The subject of the study is the Sang Hyang Penyalin chant, while the object of analysis is the code-mixing within it. Data were collected through documentation and interviews, using a question list as an interview guide and data cards as instruments. The data analysis process consisted of four stages: data identification, data reduction, data description, and verification. The results reveal three main types of code-mixing: (1) inner code-mixing, involving the use of Old Javanese (Kawi), with ten instances identified; (2) code-mixing based on word form, including root words and affixed forms, with ten instances; and (3) phrase-based code-mixing, with one nominal phrase identified. The causes of code-mixing are attributed to speakers’ multilingual competence and the difficulty of finding equivalent words to complement the meaning of the Sang Hyang Penyalin chant.Keywords
Full Text:
PDFReferences
Aditiawan, R.T. (2020). Penggunaan frasa nomina dalam surat kabar Jawa Pos: kontruksi frasa nomina. Belajar Bahasa: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 5(2), 221–232.
Adnyana, P.E.S., & Erawati, N.K.R. (2020). Struktur semantis verba “melaksanakan” dalam bahasa Jawa Kuno. Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana, 27(1).
Ari Segara, I.B.M., Suastika, I.M., Ratna Erawati, N.K., & Puspawati, L.P. (2021). Campur kode dalam pementasan Calonarang di pura Kebo Edan Pejeng oleh Sekaa Nadāksara. Sastra Gocara: Jurnal of Old Javanese Studies, 8(2).
Darajat, D. & Suherman, A. (2021). Nama dan istilah mata pencaharian masyarakat Sunda: sebuah kajian etnolinguistik. Jurnal Kata: Penelitian tentang Ilmu Bahasa dan Sastra, 5(2), 211‒223.
Mileh, I.N. (2020). Campur kode pemakaian bahasa Indonesia pada wacana iklan. Kulturistik: Jurnal Bahasa dan Budaya, 4(1), 35–43.
Putratama, I.K.R.S., Suryani, N.N.M., & Wahyuni, N.K.S. (2024). Tari Sang Hyang Penyalin. Jurnal Igel: Journal of Dance, 4(1), 1–8.
Sudika, O.I.W. (2018). Melindungi budaya bahasa bali dari peraturan gubernur Bali. Jurnal Hukum Agama Hindu, 1(80), 73–83.
Sulibra, I.K.N., Erawati, N.K.R., & Sutika, I.N.D. (2022). Warisan afiks bahasa Bali kuno dalam bahasa Bali modern. Humanis: Jurnal of Arts and Humanities. 26, 247–254.
Sutarma, P.G. (2017). Campur kode dalam penggunaan bahasa Indonesia di media sosial "whatsapp". Soshum Jurnal Sosial dan Humaniora, 8(2), 189–201.
Suweta, I.M. (2019). Bahasa dan sastra Bali dalam konteks bahasa dan sastra Jawa Kuna. Widyacarya: Jurnal Pendidikan, Agama, dan Budaya, 4(9), 5–5.
Syaifuddin, A., Fathurohman, I., & Ristiyani. (2024). Analisis bentuk dan fungsi campur kode dalam lirik lagu pop Jawa karya Denny Caknan. Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 9(1), 239–257.
Widyastuti, T. & Taufik, W.M. (2025). Bilingualisme dan diglosia pada masyarakat Jawa Barat: implikasinya terhadap pembelajaran bahasa Sunda. Lokabasa, 16(1), 109–118.
DOI: https://doi.org/10.17509/jlb.v16i2.87185
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2025 LOKABASA

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

This work is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









