REVITALISASI GURINDAM DUA BELAS KARYA RAJA ALI HAJI SEBAGAI PENDIDIKAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL ETNIS MELAYU

Lisken Sirait

Abstract


Gurindam Dua Belas adalah puisi lama dari bumi Melayu karya Raja Ali Haji. Tulisan yang dituangkan dalam bentuk puisi lama Gurindam Dua Belas ini memiliki banyak pesan moral baik dilihat dari aspek pendidikan, agama, dan budaya. Selain sebagai ulama beliau dijuluki sebagai Bapak sastrawan sekaligus sebagai Pahlawan Nasional dari Propinsi Kepulauan Riau. Beliau menamakan Gurindam Dua Belas dikarenakan terdapat dua belas pasal yang terdiri dari dua bait, tiap bait terdiri dari dua baris kalimat dengan rima yang sama, dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal atau masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawaban atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama. Gurindam Dua Belas tidak saja terdengar indah saat diucapkan akan tetapi banyak pesan moral yang disampaikan di dalamnya seperti himbauan dan nasihat sejalan dengan ajaran agama dan pendidikan secara formal. Uniknya, isi dari Gurindam Dua Belas ini ditujukan kepada semua usia dimana ada himbauan dan nasihat terkait kewajiban anak kepada orang tua, orang tua kepada anak, kewajiban bangsawan kepada masyarakatnya, budi pekerti, nasihat, beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan bagaimana hidup bermasyarakat yang baik. Melalui puisi Gurindam Dua Belas tersebut, Raja Ali Haji bermaksud memberikan pelajaran terkait dengan nilai, norma, dan etika yang memiliki koherensi melalui pengajaran agama, pendidikan, politik, filsafat, dan hukum.


Full Text:

PDF

References


Cecep, R., Permana, E., Nasution, I. P., & Gunawijaya, J. (2011). PADA MASYARAKAT BADUY Local- wisdom of Disaster Mitigation on Baduy Abstract, 15(1), 67–76.

Drew, J. A. (2005). Use of Traditional Ecological Knowledge in Marine Conservation, 1286– 1293. http://doi.org/10.1111/j.1523- 1739.2005.00158.x

Dwyer, P. D. (1994). Modern conservation and indigenous peoples : in search of wisdom, 1, 91–97.

Friedlander, A. M., Shackeroff, J. M., & Kittinger, J. N. (2013). Customary Marine Resource Knowledge and Use in Contemporary, 67(3), 441–460. http://doi.org/10.2984/67.3.10

Gobyah, K. I. (2003). Berpijak pada Kearifan Lokal. http://www.balipos.co.id.

Jim, 2. Ife. (2002). Community Development, Creating Community Alternatives. : Longman.

Kartawinata, A. M. (Penyunting). (2011). Merentas kearifan lokal di tengah modernisasi dan tantangan pelestarian. Jakarta

Koenttjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta

Sartini. (2004). Menggali Kearifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafati. Jurnal Filsafat. Retrieved from Yogyakarta

Sartini. (2004). Menggali Kearifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafati. Jurnal Filsafat. Retrieved from Yogyakarta

Sirtha, I. N. (2003). “ Pelestarian Warisan Budaya Berbasis Desa Adat”. Dinamika Kebudayaan, 5(1), 31–37.

Suryani, I. (2014). KEARIFAN LOKAL SUKU BADUY ( Studi Kasus Pada Acara Feature Dokumenter “ Indonesia Bagus ” di Stasiun Televisi NET . TV ), 13(2).

Sugiyono. 2013. Metode

Pendidikan Pendekatan

Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Penelitian Kuantitatif,




DOI: https://doi.org/10.17509/sosietas.v8i1.12497

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 SOSIETAS

Creative Commons License

This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License