Mengembangkan Nilai Nasionalisme, Petriotisme, dan Toleransi Melalui Enrichment dalam Pembelajaran Sejarah tentang Peranan Yogyakarta Selama Revolusi Kemerdekaan

Murdiyah Winarti

Sari


Kemerdekaan yang diproklamasikan sejak Agustus 1945 merupakan modal bagi bangsa Indonesia memulai perjuangan untuk mengisi kemerdekaan dengan membangun rakyatnya agar sejahtera dengan menanamkan perasaan persatuan dan kesatuan sebagai bangsa. Sejarah merupakan mata pelajaran yang paling penting, tanpa bermaksud mengesampingkan pelajaran lainnya, untuk melahirkan perasaan kuat tentang itu, menyangkut nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, dan toleransi dalam mewujudkan integrasi bangsa. Salah satu topik yang menurut peneliti sangat penting untuk dipelajari oleh generasi muda (siswa), namun tidak banyak disinggung dalam buku pegangan mereka yakni tentang masa revolusi kemerdekaan di Yogyakarta tahun 1945-1950. Peristiwa ini sarat dengan nilai-nilai kehidupan bagi generasi muda untuk mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya, seperti yang telah ditorehkan oleh generasi sebelumnya.    


Kata Kunci


Nasionalisme, patriotisme, toleransi

Referensi


Abdullah,Taufik (ed.). (2010). Sejarah lokal di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Abdullah, Taufik. (2001). Nasionalisme & sejarah. Bandung: Satya Historika.

Buchori, M. (1995). Transformasi pendidikan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Bungin, B. (2003). Analisis data penelitian kualitatif. Jakarta: Rajagrafindo Persada

Davis, G. A. (2012). Anak berbakat dan pendidikan keberbakatan. Terjemahan ATi CAhayani. Jakarta: Indeks.

Finberg, H.P.R. dan Skipp, V.H.T Skipp. (1973). Local history: objective and pursuit. Newtown Abbott: David & Charles

Hasan, S.H. (2012). Pendidikan sejarah: liku-liku dan potensi pengembangannya. Dalam Agus Mulyana (Editor), Pendidikan sejarah Indonesia, isu dalam ide dan pembelajaran, (hlm. 87-101). Bandung: Rizqi Press

Jarolimek, J. (1986). Social studies in elementary education. New York: Macmillan Publishing Company.

Kochhar, S K (2008). Pembelajaran Sejarah, Teaching of History. Jakarta: Gramedia.

Miles, M.B & Huberman, A.M. (1992). Analisis data kuantitatif, metoda-metoda baru, (terjemahan oleh Tjetjep Rohendi Rohidi). Jakarta: UI Press.

Nursam, M (dkk.) (ed.). (2008). Sejarah yang memihak, mengenang Sartono Kartodirdjo. Yogyakarta: Ombak

Renier, G.J. (1961). History, its puspose and method. London: George Allen Unwin Ltd.

Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indondesia modern 1200-2008. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Sjamsuddin, Helius. (2005). Model-model pengajaran sejarah: beberapa alternative untuk SLTA. Dalam Andi Suwirta dan Didin Saripudin (ed.), Sejarah dalam perubahan, penghormatan 70 tahun Prof. Dr. H. Ismaun, M.Pd., (hlm. 175-194). Bandung: Historia Utama Press.

Sjamsuddin, Helius. (2012). Metodologi sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Suwarno, P. J. (1994). Hamengku Buwono IX dan sistem birokrasi pemerintahan Yogyakarta 1942-1974, sebuah tinjauan historis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Widja, I Gde. (1991). Sejarah lokal suatu perspektif dalam pengajaran sejarah. Bandung: Angkasa

Wineberg, Sam (2006). Berfikir historis, memetakan masa depan mengajarkan masa lalu. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Winecoff, Herbert L. (1987). Values education: concepts and models. (Indonesia & State University of New York Technical Assistance Program, A World Bank Sponsored Program). Bandung: Fakultas Pasca Sarjana IKIP Bandung.

Wiriaatmadja, R. (2002). Pendidikan sejarah di Indonesia, perspektif lokal, nasional dan global. Bandung: Historia Utama Press.

http://portal.unesco.org/en/ev.php-RL_ID=13175&URL_DO=DO_TOPIC&

URL_SECtion=201.html

http://id.wikipedia. org/wiki/Toleransi

http://id.wikipedia. org/wiki/ Patriotisme


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.copyrightStatement##