PEMANFAATAN KAWASAN PUJA MANDALA SEBAGAI MODEL TOLERANSI DI PROVINSI BALI

Dermawan Waruwu

Abstract


Konflik bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) pernah terjadi di Indonesia. Salah satu penyebab konflik ini adalah pertentangan antara kelompok agama mayoritas dan minoritas. Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu menghargai keberagaman dan toleransi antara umat beragama. Toleransi ini terlihat pada keberadaan kawasan Puja Mandala di Nusa Dua, Provinsi Bali yang memiliki lima tempat ibadah yang saling berdampingan. Masalah yang dikaji pada artikel ini adalah bagaimana cara pemanfaatan kawasan Puja Mandala sebagai model toleransi di Provinsi Bali? Penelitian ini dianalisis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian budaya serta dikaji menggunakan teori praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Kawasan Puja Mandala memiliki 5 tempat ibadah yang saling berdampingan, yaitu Masjid, Gereja Katolik, Vihara, Gereja Kristen, dan Pura; (2) Umat beragama hidup harmonis dan saling membantu dalam kegiatan keagamaan; dan (3) Kawasan Puja Mandala menjadi destinasi wisata spiritual. Sikap toleransi merupakan modal sosial dalam mempersatukan masyarakat Indonesia. Kawasan Puja Mandala menjadi model toleransi bagi umat beragama di Bali, Indonesia, dan bahkan dunia.

Keywords


Puja Mandala, Tempat ibadah, Tokoh agama, Toleransi, Bali

References


Abdullah, M. (2010). Pluralisme Agama dan Kerukunan Dalam Keragaman. Jakarta: Buku Kompas.

Barker, C. (2005). Cultural Studies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Bentang.

ITDC. (2012). Puja Mandala, Simbol Kerukunan Umat Beragama Menarik Perhatian Anggota DPR. http://www.bumn.go.id/itdc/berita/24, diakses 6 Juli 2018.

Koswara, V.D. (2009). Sains dan Teknologi 2: Berbagai Ide untuk Menjawab Tantangan & Kebutuhan oleh Ristek. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Moleong, J.L. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nadifa, S. (2016). http://indahnyaberbeda. blogspot.co.id/2016/07/puja-mandala-sebagai-perwujudan, diakses 4 Agustus 2018.

Roswidyaningsih, L. (2014). Pengaruh Tingkat Toleransi Beragama Terhadap Interaksi Sosial di Desa Sampetan Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali. Salatiga: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga.

Sairini, W., dkk. (2006). Kerukukan Umat Beragama Pilar Utama Kerukunan Berbangsa. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Sandy, G. (2015). http://www.kompasiana. com/gapey-sandy/sebelum-adzan-lonceng-gereja-berdentang-di-puja-mandala-bali_552a9087f17e61941fd623e4, diakses 10 November 2018.

Suhardana, K.M. (2011). Intropeksi Diri: Bahan Kajian Koreksi Diri Umat Hindu. Surabaya: Paramita.

Takwin, B. (2009). Filsafat Timur: Sebuah Pengantar ke Pemikiran-pemikiran Timur. Yogyakarta: Jalasutra.

Waruwu, D. (2018). Bawomataluo Destinasi Wisata Nias Pulau Impian. Yogyakarta: Deepublish.

Waruwu, D. & Suardin G. (2015). Gereja Pecah: Perspektif Kajian Budaya. Yogyakarta: Sunrise.

Widyastuti, N. K., dkk. (2017). Pariwisata Spiritual: Daya Tarik Wisata Palasari Bali. Denpasar: Pustaka Larasan.




DOI: https://doi.org/10.17509/civicus.v19i2.25933

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 JURNAL CIVICUS



Our journal indexed by:

Jurnal Civicus is published by Civic Education Department, in collaboration with Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (Indonesia Association of Pancasila and Civic Education/AP3KnI).

 

Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.

 

Visitor Counter