Menerapkan Pendidikan Budi Pekerti Melalui Kesenian Pencak Silat

Nur Ikhsani

Abstract


 Bagi sebagian orang, pencak silat hanya dianggap sebagai bela diri yang sudah kuno, namun di sisi lain justru pencak silatdapat dijadikan sebagai sarana pendidikan budi pekerti.Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil bahwaperguruan pencak silat dipersepsi oleh masyarakat sangat positif karena dengan adanya latihan pencak silat dapat dijadikan wadah bagi para anak muda untuk mengembangkan kreativitasnya, membimbing para pemuda untuk berperilaku sesuai dengan norma yang ada serta dapat dijadikan sebagai sarana pengendalian sosial. Dampak dari aktivitas kesenian pencak silat yaitu anggota perguruan mampu disiplin, sopan dan santun, peduli terhadap sesama, berani, tanggung jawab, beretika dan dapat meningkatkan prestasi.

 


Keywords


pencak silat, budi pekerti, budaya kewarganegaraan.

References


Annisa, F. (2015). Civic of Culture: Media, Kaum Muda, dan Mengenali Ke-Istimewaan Yogyakarta.7 (1), hlm.1-18.respository.umy.ac.id.

Budimansyah, D, et. al. (2004). Dinamika Masyarakat Indonesia. Bandung: PT. Genesindo.

Budimansyah, D dan Suryadi, K. (2008). Pendidikan Kewarganegaraan dan Masyarakat Multikultural. Bandung: Program studi Pendidikan Kewarganegaraan.

Creswell. J. (2016). Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Cynarski, J.W., Hoon J., Warchol K., Bartik P. (2015). Martial arts in psycho-physical culture.IDO MOVEMENT FOR CULTURE Journal of Martial Arts Anthropology.15(4), hlm.33-38. http://imcjournal.com/images/14.4/14.4.4.pdf.acceptance: 2015. 05.024.

Draeger,dkk. (1972). Pentjak Silat, The Indonesian Fighting Art.[online]. Tersedia di: http://www.pdfarchive.info/pdf/A/Al/Alexander_Howard__Chambers_Quintin_-_Draeger_Donn_F_-_Pentjak-Silat_The_indonesian_fighting_art.pdf. [diakses12 Juni 2016]

Docherty, I., Goodlad, R., Paddison, R. (2001). Civic Culture, Community and Citizen Participation in Contrasting Neighbourhoods.Urban Studies.38 (12), hlm.2225–2250. usj.sagepub.com. 2001.07.028.

Ediyono, S. (2014). Makna Seni dalam Bela Diri Pencak Silat, Meaning of Arts in the Martial Art Pencak Silat.:Etnografi Jurnal Penelitian Budaya Etnik. 16 (2), hlm. 451-462. etd.respository.ugm.ac.id

Eichberg, H. (2012). Force against Force: Configurations of Martial Art in Europeanand Indonesian Cultures.18 (2), hlm. 33-66. http://journals.sagepub.com/doi/pdf/.1983.06.001

Farrer, D.S., Grave, J.M. (2011). Shadows of the Prophet: Martial Arts and Sufi Mysticism. 2 (1), hlm.248-257. www.uog.edu/sites/default/files/revise_248-257.pdf.2011.07.025

Gristyutawati, D., Purwono, Widodo. (2012). Persepsi Pelajar Terhadap Pencak Silat Sebagai Warisan Budaya Bangsa Se-Kota Semarang: Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreations. 1(3), hlm.130-135. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/peshr.

Hart, D.K., Hart, D.W., Nesbit R. (2011). Martial Virtue: Civic Humanism as a Groundwork for American Military Ethics. Administration & Society.43(5), hlm.487–514.http://aas.sagepub.com. 2011.08.018

Kumaidah, E. (2012). Penguatan Eksistensi Bangsa Melalui Seni Bela Diri Pencak Silat.(online).16(6), hlm. 1-8. http:/www.undip.ac.id.

Natasia, N, dkk. (2015). Penciptaan buku ilustrasi pencak silat untuk anak-anak usia 6-9 tahun sebagai upaya pengenalan warisan budaya bangsa.Desain Komunikasi Visual: Jurnal Desain Komunikasi Visual. 4 (2),hlm.1-10. http://jurnal.stikom.edu/index.php/artonouveau

Notosoejitno. (1997). khazanah Pencak Silat. Jakarta: Infomedika

Raharja, S. dan Handoyo, P. (2014). Rasionalitas mengikuti Seni Beladiri Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PHST) Ranting Pengkok, Padangan, Bojonegoro.2 (3).hlm.1-8. ejournal.unesa.ac.id/index.php/paradigma/.../9494.

Ruyadi, Y. (2011). ”Pendidikan karakter: Nilai inti bagi upaya pembinaan kepribadian bangsa” dalam Pendidikan Karakter: Nilai inti bagi upaya pembinaan kepribadian bangsa. (2011). Bandung: Widaya Aksara Press.

Setiawan, A. (2012). Pencapaian Prestasi Olahraga Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler Pencak Silat, 3(1), hlm. 71-79 www.stkippgrismp.ac.id/backsite.../09/Andi-Set.pdf.

Soekanto, S. (2013). Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi Revisi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Somantri, N. (1976). Metode Mengajar Civics. Jakarta: Erlangga.

Suwaryo. (2008). Peranan organisasi perguruan seni beladiri pencak silat dalam meminimalisir kejahatan. Tesis, Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Dipenogoro Semarang.eprints.undip.ac.id/17800/1/Suwaryo.pdf.

Suparno, P, dkk. (2002). Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah:Suatu Tinjauan Umum. Yogyakarta: Kanisius (Anggota IKAPI).

Twemlow, S.T., Lerma, B.H., Twemlow, S.W. (1996). An Analysis Of Students Reasons For Studying Martial Arts. 83,hlm. 99-103. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed.1996.08.001.

Ochid.A. (2010). Bunga Rampai Pencak Silat : Memahami pencak silat secara jernih.Tersedia di: http://rasyid-waroengsilat.com. [diakses 12 Juni 2016].

Wardhani, N. (2013). Pembiasaan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sebagai Penguatan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Informal.Tesis pada program studi pasca sarjana UPI Bandung; Tidak diterbitkan.

Wahab, A. dan Sapriya. (2011). Teori dan Landasan Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: Alfabeta.

Wilson, L (2009). Jurus, Jazz Riffs and the Constitutionof a National Martial Art in Indonesia.15(3), hlm.93-119. journals.sagepub.com/doi/pdf.2009.09.017.




DOI: https://doi.org/10.17509/civicus.v18i2.5189

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 CIVICUS



Our journal indexed by:

Jurnal Civicus is published by Civic Education Department, in collaboration with Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (Indonesia Association of Pancasila and Civic Education/AP3KnI).

 

Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.

 

Visitor Counter