MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP IPS PADA PESERTA DIDIK

Eldi Mulyana

Abstract


Aspek kognitif tingkat rendah berupa hafalan masih sering digunakan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Proses pembelajaran IPS berupa hafalan kurang memiliki makna bagi peserta didik karena hanya belajar mengingat saja, tidak menuntut aktifitas belajar berpikir kritis dan menggunakan nalar logis. Implikasi dari kegiatan pembelajaran tersebut yang berupa hafalan, berpusat pada guru (teacher centered), tidak melibatkan fakta aktual, tidak menggunakan media konkrit dan tidak aplikabel dalam memecahkan masalah membuat peserta didik menganggap pembelajaran IPS tidak berkenaan dengan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, diperlukan model pembelajaran yang wajib mengoptimalkan partisipasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran IPS. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengoptimalkan peran peserta didik adalah model pembelajaran generatif. Model pembelajaran tersebut dikembangkan berdasarkan filsafat konstruktivisme, bahwa pengetahuan dibangun sendiri oleh peserta didik yang  diarahkan untuk mengkonstruksi fakta-fakta yang dimilikinya seperti membangun ide tentang suatu fenomena atau membangun arti untuk suatu istilah. Karena itu, model ini juga membangun strategi untuk sampai pada penjelasan tentang pertanyaan bagaimana dan mengapa, sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan yang tepat. Menurut pandangan konstruktivisme, secara individu, peserta didik mampu mengembangkan pemikiran masing-masing karena adanya waktu berpikir, akuntabilitas berkembang, serta jumlah kelompok yang relatif lebih kecil, sehingga mendorong seluruh peserta didik terlibat lebih aktif. Keberhasilan penggunaan model pembelajaran generatif dapat diukur dari nilai tes sebelum pembelajaran dilakukan (pre test) dan tes setelah pembelajaran dilakukan (post test). Analisis data untuk mengetahui seberapa besar pemahaman konsep IPS pada peserta didik dapat menggunakan teknik Certainty of Response Indeks (CRI) di mana secara teoritis klasifikasi skor pemahaman telah diatur sedemikian rupa. Berdasarkan teknik CRI, kita dapat mengetahui rata-rata tidak tahu konsep, miskonsepsi dan rata-rata yang tahu konsep pada peserta didik.

Kata kunci: Konstruktivisme, Model Pembelajaran Generatif, Pemahaman Konsep IPS, Teknik CRI.


Full Text:

PDF

References


Al Muchtar, S. (2014). Pengembangan Program Pembelajaran Konsep Pendidikan IPS. Bandung: Gelar Pustaka Mandiri.

Armiza. (2007). Model Siklus Belajar Abduktif Empiris Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP Pada Materi Pemantulan Cahaya. Tesis Magister pada PIPA SPs UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Dahar, R. W. (2001). Teori-teori Belajar. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hassan, H., et al. (1999). Misconceptions and the Certainty of Responden Index (CRI). Journal of Physic Education, 294-299.

Maria , H. T. S. (1999). Penerapan Model Belajar Generatif dalam Pembelajaran Rangkaian Listrik Searah. Tesis Magister pada PIPA SPs UPI: tidak diterbitkan.

Poedjiadi, A. (2001). Pengantar Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: Yayasan Cendrawasih.

Sapriya. (2012). Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Somantri, M. N. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suparno, P. (2001). Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Yani, W. (2003). Identifikasi Miskonsepsi Pada Konsep-konsep Medan Magnet Dengan Menggunakan Metode Certainty Of Response Indeks (CRI). Skripsi Sarjana pada FPMIPA UPI: tidak diterbitkan.




DOI: https://doi.org/10.17509/jpis.v23i2.1617

Refbacks

  • There are currently no refbacks.