Menggali Daya Intelektual Lokal sebagai Basis Pembelajaran Sejarah yang Kreatif

Wahyu Purwiyastuti

Abstract


Belajar sejarah di Indonesia mengalami berbagai dinamika. Materi sejarah yang dibuat membosankan, siswa tidak termotivasi untuk belajar sejarah karena kondisi diskriminasi dalam hirarki pengetahuan, dan lain-lain. Pada tahun 2013, Pemerintah Indonesia meluncurkan kurikulum baru. Kurikulum ini menekankan pengembangan pemikiran kritis - kreatif dan inovatif bagi peserta didik. Tujuan kurikulum baru adalah mendorong guru sejarah menjadi kreatif. Tulisan ini mencoba memusatkan perhatian pada dua tokoh intelektual dalam sejarah Indonesia dan India. Ada Ki Hadjar Dewantara dan Mohandas Karamchand Gandhi. Nilai-nilai kebijaksanaan budaya Dewantara dan Gandhi berikut dapat diaktualisasikan dalam sejarah. Pendidik histoical dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk menciptakan materi sejarah. Penerapan berbasis ilmiah pada tahun 2013 kurikulum yang akan memberikan ruang yang tepat untuk diimplementasikan. Diantaranya dengan berbagai cara seperti membentuk ruang diskusi, membuat media elektronik, menciptakan sebuah komunitas, sekelompok penggemar sejarah, menulis sebuah sejarah gerakan, mengadakan program karakter camp yang bertemakan dan berinteraksi dengan masyarakat, atau berbagai tindakan yang mampu mengobarkan semangat siswa.

Keywords


Nasionalisme, patriotisme, toleransi, enrichment

Full Text:

PDF

References


Gitaliska. (2015). Revitalisasi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk Pendidikan Karakter Bangsa. Salatiga: Penerbit Widyasari.

Haryanto. (2010). “Pendidikan Karakter menurut Ki Hadjar Dewantara”. Skripsi. Yogyakarta: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.

Kuntowijoyo. (2004). Raja, Priyayi, dan Kawula. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Padmaningsih, D. (2011). “Tembang Dolanan Tradisional Jawa Sebagai Pendidikan Anak Usia Dini”, Konggres Budaya Jawa V, Surabaya, 20-30 November 2011.

Purwanto, M. N. (1997). Psikologi Pendidikan. Bandung: Penerbit Remaja Rosdakarya.

Purwiyastuti, W. (2012). Sejarah, Kebudayaan, dan Pengajarannya. Salatiga: Penerbit Widyasari Press.

Sardiman, A. M. (2015). “Menakar Posisi Sejarah Indonesia pada Kurikulum 2013”. Makalah. Lokakarya “Penguatan Mata Pelajaran Sejarah Indonesia dalam Kurikulum di Sekolah”, Universitas Negeri Yogyakarta.

Sulistyorini, D. (2011). “Nilai Moral Dalam Cerita Rakyat sebagai Sarana Pendidikan Budi Pekerti”, Konggres Budaya Jawa V, Surabaya, 20-30 November 2011.

Tugiran. (2012, 5 April). Kedaulatan Rakyat, hlm. 15.

Wegig, R. W. (1993). Dimensi Etis Ajaran Gandhi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

“Sekolah atau Penjara, Edisi Paulo Freire”. (2001, Januari-Februari). Majalah BASIS (No. 01-02), Tahun ke-50. Yogyakarta: Yayasan BP Basis.

“Aura Anti Kerakyatan”. (2011). Majalah BASIS (No. 05-06), Tahun ke-60. Yogyakarta: Yayasan BP Basis.




DOI: https://doi.org/10.17509/historia.v1i1.7007

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2022 Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah 


INDEXED

   

 

TOOLS

     

 

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Alamat Redaksi: Gedung Numan Soemantri, FPIPS UPI, Departemen Pendidikan Sejarah, Lantai 2, Jl. Dr. Setiabudhi No 229 Bandung, 40154

 

View "Jurnal Historia" Stats