Fondasi Filosofis Pendidikan Sejarah di Era Post Truth

Desvian Bandarsyah

Abstract


Kehidupan di era post truth, menempatkan kebenaran menjadi barang yang dianiaya dengan brutal. Setiap individu merobek-robek substansi kebenaran, maka kehidupan semakin sinis. Alih-alih kebenaran yang diperoleh, mereka malah menghancurkan kebenaran. Maka, pendidikan dan pendidik sejarah dapat mendorong berlangsungnya proses diseminasi ilmu pengetahuan yang benar dan bijak dalam masyarakat. Untuk memahami berbagai perkembangan dunia kekinian, mutlak diperlukan ilmu dan nalar keilmuan dalam masyarakat. Penularan nalar keilmuan yang meluas pada masyarakat akan memberikan efek besar bagi kebangkitan masyarakat dan bangsa. Dengan demikian, pendidikan sejarah perlu mengambil peran yang lebih besar dalam menjaga kesinambungan proses sosial untuk menjadi Indonesia di tengah-tengah masyarakat dunia. Perlu usaha yang ditopang dengan kesadaran yang jernih dalam melihat dialektika sejarah dan kesejarahan yang berlangsung. Tanpa itu, masyarakat akan mengalami distorsi dalam memahami peristiwa yang terjadi dihadapan mereka pada dewasa ini. Sebab peristiwa-peristiwa itu telah dan akan terus dipahami secara keliru oleh sebagian besar masyarakat bangsa ini.

Keywords


Fondasi filosofis, pendidik sejarah, pendidikan sejarah, dan era post truth

Full Text:

PDF

References


Bandarsyah, D. (2019). Bodoh dan kebodohan era post truth dalam https://geotimes.co.id/kolom/bodoh-dan-kebodohan-era-post-truth/

Bandarsyah, D. (2019). https://www.facebook.com/dbandarsyah pada 7 April 2019, pukul 14:36 WIB.

Capra, F. (2009). The hidden connections: strategi sistemik melawan kapitalisme baru. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.

Gadamer, H-George. (2004). Kebenaran dan metode: pengantar filsafat hermeneutika. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Geertz, C. (1998). Tafsir kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Hardiman, F. Budi. (2002). “melampaui, mengingat, dan melupakan diskursus tentang detraumatisasi”, dalam BENTARA, KOMPAS, Jum’at, 11 Oktober 2002., hal. 49, kol. 1-9.

L. Van Hecke, M. (2014). Blind spot: mengapa orang pintar melakukan hal-hal bodoh. Yogyakarta: Kanisius.

Langlois, CH.V & Seignobos, C.H. (2019). Introduction to the study of history. Routledge Revivals

McCarthy, T. (2008). Teori kritis jurgen habermas. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Nichols, T. (2018). matinya kepakaran: the death of expertise: perlawanan terhadap pengetahuan yang telah mapan dan mudharatnya. Jakarta: KPG.

Muzir, I. R. (2008). Hermeneutika Filosofis Hans George Gadamer. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group.

Soedjatmoko. (1976). Kesadaran sejarah dan pembangunan. Prisma, 5(7). Jakarta: LP3ES.

Soedjatmoko. (2010). Menjadi bangsa terdidik menurut soejatmoko. Jakarta: KOMPAS.

Toynbee, Arnold. (2007). Sejarah umat manusia: uraian analisis, kronologis, naratif, dan komparatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.




DOI: https://doi.org/10.17509/historia.v3i1.21042

Refbacks



Copyright (c) 2022 Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah 


INDEXED

   

 

TOOLS

     

 

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Alamat Redaksi: Gedung Numan Soemantri, FPIPS UPI, Departemen Pendidikan Sejarah, Lantai 2, Jl. Dr. Setiabudhi No 229 Bandung, 40154

 

View "Jurnal Historia" Stats