Balinisasi: Upaya Kolonial Mengkonstruksi Bali Sebagai Museum Hidup

Ni Made Ariani, Putu Dyah Pradnya Paramitha

Abstract


Pada abad ke-18, Pulau Bali belum menjadi wilayah yang menarik bagi pemerintah kolonial Belanda karena dianggap tidak strategis secara ekonomi dan geopolitik. Ketiadaan komoditas ekspor bernilai tinggi, struktur politik yang terfragmentasi, serta posisinya di luar jalur perdagangan internasional menyebabkan Bali hanya diposisikan sebagai mitra dagang. Perhatian kolonial Belanda terhadap Bali baru meningkat pada abad ke-19 seiring dengan konflik yang dipicu oleh penerapan hukum tawan karang oleh kerajaan-kerajaan di Bali, yang dianggap merugikan kepentingan kolonial. Konflik tersebut berujung pada intervensi militer dan mencapai puncaknya dalam Perang Puputan Badung (1906) dan Puputan Klungkung (1908), yang menandai runtuhnya kedaulatan politik kerajaan-kerajaan Bali. Penaklukan berdarah ini memunculkan kecaman internasional terhadap tindakan kolonial Belanda, sehingga mendorong perubahan strategi kekuasaan dari dominasi militer menuju pendekatan kultural dan administratif melalui sistem pemerintahan tidak langsung (zelfbestuur). Dalam konteks ini, pemerintah kolonial menerapkan kebijakan Baliseering atau Balinisasi sebagai strategi legitimasi politik. Melalui Balinisasi, Bali dikonstruksi sebagai “museum hidup”, yakni ruang budaya yang dianggap statis, autentik, dan perlu dilindungi dari pengaruh modernitas. Konstruksi tersebut berfungsi untuk membenarkan intervensi kolonial dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Bali serta mendukung pengembangan pariwisata kolonial. Penelitian ini menegaskan bahwa citra Bali sebagai museum hidup merupakan hasil konstruksi kolonial yang sarat kepentingan politik, sosial, dan ekonomi, serta meninggalkan warisan yang masih memengaruhi persepsi global terhadap Bali hingga kini.


Keywords


Balinisasi; kolonialisme Belanda; museum hidup; kebudayaan Bali; pariwisata

References


Agung, I. A. A. G. (1988). Bali abad XIX. Gadjah Mada University Press.

Anderson, B. R. O’G. (2006). Imagined communities: Reflections on the origin and spread of nationalism (Rev. ed.). Verso.

Covarrubias, M. (1937). Island of Bali. Alfred A. Knopf.

Creese, H. (2016). Women of the Kakawin world: Marriage and sexuality in the Indic courts of Java and Bali. Routledge.

Foucault, M. (1972). The archaeology of knowledge. Pantheon Books.

Geertz, C. (1980). Negara: The theatre state in nineteenth-century Bali. Princeton University Press.

Harkantiningsih, N. (2014). Pengaruh kolonial di Nusantara. Kalpataru, 23(1), 67–80. https://doi.org/10.24832/kpt.v23i1.51

Hitchcock, M., King, V. T., & Parnwell, M. (Eds.). (1993). Tourism in South-East Asia. Routledge.

Hitchcock, M., & Putra, I. N. D. (2007). Tourism, development and terrorism in Bali. Ashgate.

Howe, L. (2005). The changing world of Bali: Religion, society and tourism. Routledge.

Indah, M. S., Putri, D. M., & Setiaji, A. F. (2023). Representasi budaya Banyuwangi dalam Banyuwangi Ethno Carnival: Pendekatan teori representasi Stuart Hall. Jurnal Education, 3(2), 32–42. https://doi.org/10.51903/education.v3i2.332

Jordaan, R. E. (1980). The tawan karang tradition in Bali. Archipel, 20, 123–144.

Krisnadi, L. A. (2023). Baliseering as reductionism project: Vandana Shiva’s ecofeminist approach. In Proceedings of the 10th International Conference on Nusantara Philosophy (ICNP) (pp. 1–8). Universitas Gadjah Mada.

Nordholt, H. S. (1996). The spell of power: A history of Balinese politics 1650–1940. KITLV Press.

Parta, I. W. S. (2011). Perkembangan seni rupa Pita Maha dalam konteks konstruksi kebudayaan Bali. Mudra: Jurnal Seni Budaya, 26(2), 181–192.

Picard, M. (2006). Bali: Pariwisata budaya, budaya pariwisata. Gramedia.

Pringle, R. (2004). A short history of Bali: Indonesia’s Hindu realm. Allen & Unwin.

Raffles, T. S. (2014). The history of Java (Original work published 1817). Cambridge University Press.

Reid, A. (2015). A history of Southeast Asia: Critical crossroads. Wiley-Blackwell.

Ricklefs, M. C. (2008). A history of modern Indonesia since c. 1200 (4th ed.). Stanford University Press.

Robinson, G. (1995). The dark side of paradise: Political violence in Bali. Cornell University Press.

Said, E. W. (1978). Orientalism. Pantheon Books.

Sinaga, R., et al. (2025). Dari tanam paksa ke politik etis: Dinamika kebijakan kolonial Belanda dan dampaknya terhadap masyarakat pribumi. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(4).

Stoler, A. L. (2002). Carnal knowledge and imperial power: Race and the intimate in colonial rule. University of California Press.

Supriatna, N. (2022). Living museum sebagai sumber pembelajaran sejarah: Comparative studies in Bali and West Java. Teori dan Praksis Pembelajaran IPS, 7(1).

Tarling, N. (Ed.). (1992). The Cambridge history of Southeast Asia: Vol. 2. The nineteenth and twentieth centuries. Cambridge University Press.

Taylor, J. G. (2009). The social world of Batavia: Europeans and Eurasians in colonial Indonesia (2nd ed.). University of Wisconsin Press.

Van der Kraan, A. (1985). The Dutch–Balinese conflict, 1846–1849. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 141(2/3), 246–270.

Vickers, A. (1989). Bali rebuilt: Tourism and Balinese identity. Asian Studies Review, 13(1), 1–17.

Vickers, A. (1989). Bali: A paradise created. Allen & Unwin.

Wiener, M. J. (1995). Visible and invisible realms: Power, magic, and colonial conquest in Bali. University of Chicago Press.




DOI: https://doi.org/10.17509/historia.v9i1.97592

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2025 Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah 


INDEXED

  

 

TOOLS

     

 

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Alamat Redaksi: Gedung Numan Soemantri, FPIPS UPI, Departemen Pendidikan Sejarah, Lantai 2, Jl. Dr. Setiabudhi No 229 Bandung, 40154

 

View "Jurnal Historia" Stats