LESSON STUDY SEBAGAI ALTERNATIF MODEL PEMBINAAN (SUPERVISI) GURU DI SEKOLAH DALAM USAHA MEWUJUDKAN GURU PROFESIONAL

Riandi Riandi

Abstract


Hambatan pelaksanaan pembinaan (supervise) terhadap para guru di sekolah kerap kali ditemui pimpinan sekolah. Kesediaan para guru untuk disupervisi seringkali menjadi kendala utama, demikian pula untuk menentukan kapan saat yang tepat untuk pelaksanaanya. Kegiatan lesson study merupakan salah satu alternative yang dapat digunakan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Tahap-tahap lesson study yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan refleksi merupakan saat yang tepat untuk para pimpinan sekolah dalam melaksanakan tugasnya sebagai supervisor. Melalui lesson study semua komponen sekolah dengan semangat kesejawatan (collegiality) melakukan peerevaluation dan peersupervision untuk meningkatkan keprofesionalannya dalam melaksanakan pembelajaran. Lesson study memiliki peluang yang cukup baik dalam usaha peningkatan kualitas pembelajaran yang akan sejalan dengan meningkatnya keprofesionalan guru. Satu hal yang harus diperhatikan adalah kesinambungannya agar efektivitas lesson study dalam mendukung peningkatan kualitas pembelajaran dapat dibuktikan.

Keywords


pembinaan guru; pimpinan sekolah; kesejawatan; lesson study; tahap-tahap lesson study; peersupervision

Full Text:

PDF

References


Chokshi, S., Ertle, B., Fernandez, C., Yoshida, M. (2001) Lesson Study Protocol, Lesson Study Group.

Chokshi, S. and Fernandez, C., (2004) Challenges to Importing Japanese Lesson Study:

Concerns, Misconceptions, and Nuances, Phi Delta Kappa International

Hinduan, (2005), Meningkatkan Profesionalisme Guru IPA Sekolah, Makalah Seminar Nasional Pendidikan IPA II Himpunan Sarjana dan Pemerhati Pendidikan IPA Indonesia: “Membangun Pendidikan IPA Masa Depan yang Kompetitif”

Lerwis, C. (2002) Does Lesson Study Have a Future in the United State?, Nagoya Journal of Education and Human Development

Lewis, C., Perry, R., Hurd, J., (2004) A Deeper Look at Lesson Study is Not Just about Improving a Single Lesson. It’s About Building Pathways for Ongoing Improvement of Instruction, Educational Leadership

NCSESA, (1992). National Science Education Standards: A Sampler Washington DC: National Research Council

NSES, _______. National Science Educational Standard. Washington DC: National Academy press

NSTA, (1998). Standard for Science Teacher Preparation.

Satori, D. (1989), Pengembangan Model Supervisi Sekolah Dasar, Disertasi Doktor, Fakultas Pasca Sarjana-IKIP Bandung

Teriska, R., (2005), Peran LPMP Jawa Barat dalam Pemberdayaan Guru sains, Sebuah Upaya untuk Menyelesaikan Permasalahan Guru sains di Jawa barat, Makalah Seminar Nasional Pendidikan IPA II Himpunan Sarjana dan Pemerhati Pendidikan IPA Indonesia: “Membangun Pendidikan IPA Masa Depan yang Kompetitif”

Tim Pengembang SKGP SMP-SMA (2003), Standar Kompetensi Guru Pemula, Depdiknas-Dirjen Pendidikan Tinggi Bagian Proyek P2TK




DOI: https://doi.org/10.18269/jpmipa.v8i2.35373

DOI (PDF): https://doi.org/10.18269/jpmipa.v8i2.35373.g15071

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Jurnal Pengajaran MIPA

JPMIPA http://ejournal.upi.edu/index.php/jpmipa/index is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License

Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (JPMIPA) or Journal of Mathematics and Science Teaching 

All rights reserverd. pISSN 1412-0917 eISSN 2443-3616

Copyright © Faculty of Mathematics and Science Education (FPMIPA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

 

View JPMIPA Stats